We may feel
that we're useless
that what we've done are worthless
Useless
Worthless
All things seem wrong
Nothing right
A stone might be useless
A drip of water might be worthless
A leaf might not be mean a lot
But...
Stones form a mighty mountain
Water flows as wide as ocean
Leaves provide a great giant tree's need
We may have seen through our eyes
We should examine not through our eyes
Look at our life through heaven's eyes
---
inspired by DreamWorks Pictures' The Prince of Egypt
Tuesday, October 21, 2008
Look at Your Life through Heaven's Eyes
Tuesday, May 27, 2008
The Chronicles of Narnia: PRINCE CASPIAN
Jenis Film: Fantasy/adventure - Remaja (teenage)
Produser:Andrew Adamson, Cary Granat, Douglas Gresham
Produksi:Walt Disney Pictures
Homepage: http://disney.go.com/disneypictures/narnia/
Durasi:145 Min
Pemain: William Moseley, Anna Popplewell, Skandar Keynes, Georgie Henley, Ben Barnesm, Liam Neeson
Sutradara: Andrew Adamson
Penulis: Andrew Adamson, Christopher Markus, Stephen Mcfeel
Baca sinopsis film di sini.
Hari Minggu kemaren, 25 Mei 2008, liat film ini. Visual yang ditampilkan di sekuel NARNIA kali ini bener2 jauh lebih bagus dari film layar lebar Disney yang pertama (The Lion, The Witch and The Wardrobe). Dengan pemain2 yang masih sama, penambahan karakter2 baru, film ini jadi bener2 'lain' dari yang pertama. Karakter yang muncul kembali: The Pevensies (Peter, Susan, Edmund, Lucy), The White Witch, dan Aslan (tentu saja!). Dan karakter baru yang muncul: Trumpkin, Trufflehunter, Nikabrik, Reepicheep, Prince Caspian, The Professor, Lord Miraz, Lord Sopespian, dan masih banyak lagi.
Sepulang dari nonton film ini (yang selalu terjadi), Meikel dan aku melakukan review ulang dari apa yang sudah kami liat. Sayang sekali kita masuknya telat, Meikel rada bermasalah dengan perutnya, jadi beberapa menit sebelum film dimulai, Meikel musti ke kamar mandi -dan lumayan lama. Dan akhirnya kita kehilangan beberapa menit pertama dari film ini. Mungkin sekitar 10-15 menit di awal.
Banyak hal yang bisa dipelajari dari tiap-tiap karakter yang ada:
The Pevensies:
Peter --> Seorang pemimpin (yang terdahulu) memiliki kecenderungan untuk bersikap arogan dan mengambil posisi pemimpin secara otomatis, padahal seharusnya 'masa' nya sudah lewat. Kearoganan ini makin diperjelas dikarenakan perasaan "dibutuhkan" karena Peter merasa The Pevensies dipanggil (Susan's horn that has been blown) untuk memberikan bantuan. Dan karena sikap arogan ini, Peter menjadi sering berselisih paham dengan Prince Caspian.
Susan --> Seorang yang menganggap dirinya memiliki pemikiran seorang dewasa. Menganggap adiknya (terutama Lucy) adalah seorang anak kecil. Tegas, kuat, dan agak menyebalkan bila dipandang dari sudut pandang seorang anak kecil. Tidak memiliki antusiasme untuk kembali ke dunia Narnia. Merasa dirinya sudah terlalu dewasa untuk terus-terusan 'bermain-main' di dunia Narnia.
Edmund --> Seorang yang masih merasa bersalah karena dulu pernah tidak mempercayai Lucy (adiknya), hingga kini pun dia tidak membela Lucy atauoun juga tidak mempercayai Lucy. Sebuah sikap yang 'abu-abu'. Dan oleh karena sikapnya ini, mereka musti menempuh jalur perjalanan yang lebih jauh dari seharusnya -apabila mereka mempercayai Lucy.
Lucy --> Yang memiliki usia paling muda dari ketiga Pevensie. Sering dianggap remeh pendapat-pendapatnya. Kurang memiliki keberanian untuk mengikuti apa yang Aslan katakan kepadanya. Menjadi kurang percaya diri karena sering diremehkan kakak-kakaknya, sehingga tidak berani mempertahankan kehendaknya.
The White Witch --> Representasi dari 'kejahatan' yang selalu bisa menawarkan hal-hal 'indah' yang menghipnotis manusia sehingga mereka akan melakukan apa saja sesuai dengan yang dia inginkan.
Trumpkin --> Seorang dwarf yang keras kepala, dan sudah kehilangan kepercayaan tentang keberadaan Aslan. Dia sudah menanti ribuan tahun dan ternyata tidak ada tanda-tanda perubahan ke kehidupan yang lebih baik. Narnia masih dijajah bangsa Telmarine, Aslan tidak menunjukkan keberadaanNya. Namun, dia masih setia membela Narnia, tentunya dengan setia mengabdi kepada Raja-Raja dan Ratu-Ratu yang terdahulu (yang dipanggil dengan Susan's horn).
Nikabrik --> Seorang dwarf penggerutu yang sangat kasar (kata-katanya), sangat pesimistis dan pada akhirnya menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan dalam perang melawan bangsa Telmarine. Dia bahkan bersekutu dengan The White Witch, karena dia menganggap Aslan sudah tidak bisa diandalkan. Oleh karena itu, dia mencari sosok yang dulunya pernah membuat Aslan mati.
Prince Caspian --> Seorang keponakan yang terancam dibunuh oleh pamannya sendiri karena keberadaannya akan menghalangi anak kandung pamannya untuk menjadi Raja Telmarine. Rendah hati. Berani. Memiliki semua karakter yang memang diperlukan untuk menjadi seorang raja. Hanya pengalaman saja yang dia masih belum banyak miliki. Namun melalui kejadian-kejadian yang tidak enak, Caspian mempelajari dan makin diperlengkapi banyak hal dalam waktu singkat.
Moral Cerita Keseluruhan:
Ikutilah apa yang menjadi keyakinanmu. Jangan takut! Sekalipun dirimu diremehkan, tetap pegang teguh keyakinanmu! Dan, berharaplah hanya kepada KEBENARAN! -Lucy.
Tak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi apabila kamu melakukan hal yang lain di waktu yang lalu. Tidak menjadi masalah "hal-hal yang tidak kau kerjakan di masa lalu", yang menjadi hal yang penting adalah "hal-hal yang kau kerjakan sekarang" dan "yang akan datang". Itulah yang penting! Marilah bergegas! -Aslan.
Untuk bisa membuat sebuah film yang diangkat dari sebuah buku, bukan hal yang mudah. Tentunya butuh ketelitian dalam membaca tulisan dan memvisualkannya ke dalam gambar. Ditambah lagi pemilihan aktor dan aktris yang akan memerankan setiap karakter yang ada di dalamnya. Belum lagi pengambilan gambar yang tepat. Proses editing yang rumit. Penambahan visual-effect. Kostum yang detail. Dekorasi dan setting waktu yang sangat teliti. Semuanya diperlukan kerjasama dengan banyak pihak. Banyak pikiran dan banyak bakat yang diperlukan. Serta kesatuan tujuan! Ndak gampang, namun hasilnya bisa dinikmati oleh banyak penonton di seluruh dunia! Luar biasa!
Jadi teringat pada perenunganku tentang pembuatan film beberapa waktu yang silam. Kehidupan kita pun seakan-akan sebuah film yang Tuhan buat. Ada di antara kita yang berperan sebagai sutradara. Sebagai pembuat visual-effect. Pengarah lampu. Pembuat dekorasi. Make up artist. Pembuat kostum. Kameraman. Aktor. Pengisi suara. Editor. Penyimpan roll film. Bagian transportasi. Bagian akomodasi. Dan masih banyak lagi. Mungkin kadang kita merasa peran yang kita jalani di dunia ini tidak lebih baik dari si dia. Si dia lebih gini... lebih gitu... lebih bisa ini... lebih bisa itu... jadi wajar kalau aku lebih baik diam saja, tak perlu berkata atau berlaku apapun! Atau kadang kita merasa aku ini lebih gini... lebih gitu... lebih bisa ini... lebih bisa itu... dibandingkan orang lain... jadi wajar kalau semua orang mendengarkan dan melaksanakan apa yang aku katakan!
Jadi, peran seperti apa yang akan kita lakukan di dalam hidup kita masing-masing? Menjadi sutradara, mengarahkan? Menjadi aktor/aktris, dilihat orang banyak? Membuat dekorasi, membuat kostum, dan jarang sekali ada yang memperhatikan namamu muncul di akhir film -bahkan mungkin tidak dicantumkan? Tentunya setiap orang memiliki kelebihan yang berbeda dibandingkan dengan orang lain. Tidak semua orang bisa menjadi sutradara. Tidak banyak orang yang bisa menjadi aktor/aktris. Dan sedikit orang yang mau dengan kerendahan hati memilih peran-peran yang 'tidak terlihat' secara langsung.
Jadi, peran seperti apa yang akan kita lakukan di dalam hidup kita masing-masing?
Selamat memilih peran dan berperan!
Wednesday, March 12, 2008
27 Dresses

Kemaren siang pergi ke Galaxy Mall bareng Ce Angeline (aih aih... ndak pernah manggil kayak gini hahaha -cece ne monex- biasae manggil "nonik"). Setelah browse di 21 cineplex, akhirnya kita berdua nonton filrm. Dan 27 Dresses lah yang menjadi pilihan.
Film yang bagus. Sarat dengan nilai2 yang bagus untuk dipelajari. Banyak hiburan dan banyak pelajaran yang bisa diperoleh lewat film ini. Nice drama. Liat film ini membuat cukup terhanyut dengan sukses. Thumbs up buat sutradaranya ^^ ada kalanya ngerasa bener2 mangkel, ada saatnya juga ngerasa sedih banget. Huehehe. Apa gara2 gue lagi sensi jadi gampang terhanyut yeee...? Hahahaha. Yeah, termasuk film yang kurekomendasikan buat diliat (walau kalau diliat di bioskop mungkin rada 'rugi' yah -ngga ada adegan action yang keren2 gitu :p).
Happy ending movie. Dan engga ada akhir yang menggantung. Semua tokoh utamanya dijelaskan ending nya (walau ada beberapa tokoh yang secara implisit saja dituturkan endingnya).
Saturday, October 20, 2007
Get Married
Empat sahabat, Mae (Nirina Zubir), Guntoro (Desta ‘Club Eighties’), Eman (Aming), dan Beni (Ringgo Agus Rahman) selalu bersama-sama sejak kecil. Orang tua Mae, Pak dan Bu Mardi (Meriam Bellina) mencarikan Mae jodoh. Segala cara ditempuh hingga ke dukun cabul.
Rendy (Richard Kevin), cowok cakep dan konglomerat, bosen pacaran dengan cewek-cewek jaman sekarang. Ia dapat kabar tentang Mae dan pergi menemuinya. Rendy pun....jatuh cinta! Ternyata Mae juga jatuh cinta kepada Rendy tapi Rendy dihajar teman-temannya karena kesalahpahaman. Mengetahui itu Mae amat kecewa dan menangis.
Usaha perjodohan yang gagal tersebut membuat Bu Mardi sakit keras. Dia mengancam, kalau ia mati sementara Mae belum dapat jodoh ia akan mati penasaran. Mae kelimpungan. Akhirnya ia akan kawin dengan salah seorang dari tiga sohibnya. Setelah pengundian berkali-kali, Beni lah yang 'beruntung' mengawini Mae. Kabar ini membuat Bu Mardi sembuh total dari sakitnya.
Rendy sebagai anak elit, geram telah dihajar dan dipermalukan oleh anak kampung Mae. Maka terjadilah tawuran antara kaum elit dengan orang-orang di kampung Mae. Hari itu adalah hari pernikahan Mae dengan Beni. Terdengar kabar bahwa kampung mereka diserang. Maka para tamu dan calon pengantin pria pergi membela kampungnya, termasuk Mae. Alangkah terkejutnya Mae dan Rendy saat mereka mengetahui bahwa mereka adalah para ‘jagoan’ dari golongan elit dan kampung. Kesepakatan pun diambil dan… siapakah akhirnya yang menjadi pengantin pria?
Jenis Film DRAMA/COMEDY – REMAJA (TEENAGE)
Pemain NIRINA, RINGGO AGUS RAHMAN, DESTA, AMING, MERIAM BELLINA, JAJA MIHARJA, INGRID WIDJANARKO
Sutradara HANUNG BRAMANTYO
Penulis MUSFAR YASIN
Produser CHAND PARWEZ SHERVIA
Produksi STARVISION
Durasi 105 MIN
sumber: www.21cineplex.com
Film ini lumayan oke. Tadi nonton di citra 21, bareng ririn n mira. Dateng udah cukup mepet dengan jadwalnya. Jadilah kita kedapetan duduk di deretan nomer dua dari layar. Hahaha. Pertama kalinya nih liat filem anak negri sendiri di deretan (nyaris) terdepan. Sampe2 si mira di menit2 pertama ngebaca n kasi komentar tentang motif batik bu mardi... trus kembangan di gelas yang di minum pak mardi... hahaha... belum lagi tulisan "menerima pesanan" yang ada di gerobak tukang es. Hihihi... yah mungkin hal2 begitu ngga bakalan terlihat atau menarik perhatian kami kalo kami duduk di deretan belakang. Huehehe. Jadi, kadang emang perlu kita duduk agak di depan untuk bisa menikmati detailing yang disajikan pembuat film.
Di film ini cukup banyak nilai2 yang dipaparkan. Banyak kebiasaan2 yang baik maupun buruk yang dimiliki anak negri kita. Teguran2 dan sindiran2 disampaikan dengan ringan dan kocak. Kepiawaian penulis dan sutradara patut diacungi jempol.
Yang mbuat sedikit prihatin tuh justru pada respon penonton. Di bagian adegan tawuran, eh ternyata penonton ketawa dengan keras. Bahkan menurutku puncak ketawa adalah di adegan ini. Hmm... jadi agak khawatir neh... kenapa kok para penonton begitu terhibur dengan adegan ini. Padahal di sana ditampilkan adegan tawuran yang merusak banyak kios2 dan rumah2 penduduk yang tidak ikut2 tawuran. Kenapa kok malah ketawa? Apakah ini berarti kekerasan adalah sebuah hal yang lucu? Memang sih ada beberapa adegan yang cukup lucu, sehingga menggelikan. Dan kayaknya emang harus dibuat demikian supaya tetep satu tema yah. Namanya juga filem komedi. Yah, dinikmati aja deh... batinku. Walau leher udah makin pegel. Hahahaha. Mira malah udah hampir pingsan tuh. Begitu nyampe di mobil, mira langsung ambruk di kursi belakang. Hahaha. Pusing abis katanya.
Yah, kalau ada yang mau liat filem ini, tetep kritis aja, jangan semua nilai2 yang ditampilin di'telan' begitu aja. Dicermati dan di'filter' terlebih dulu.
Catatan tambahan: pas libur lebaran kemaren, sempet liat "John Tucker must Die" (lucu... n menghibur... hahahaha... berkisah tentang playboy yang menerima pembalasan dari mantan2 nya yang ngerasa sudah di'permainkan' dan terjerat rayuan gombalnya hahaha), "Final Destination 3" (ngeri n menengangkan plus sadis!), "Superman Return" (ngga tau ending nya, CD nya keburu ngadat hahaha), "Fighting Tempation" (kerennn... n sangat menginspirasi), "Master and Commander" (cukup boring, tapi banyak pelajaran yang bisa diambil di sana: semua tokoh selalu ada kelemahannya dan ada kelebihannya masing2),"Shrek 1" (udah pada liat kan?), "Shrek 2" (yang ini juga to?), "Meet the Robinsons" (film animasi dengan makna2 yang menarik untuk digali, very nice!), "Ant Bully" (film animasi yang mengajak kita untuk berperikesemutan hahaha... plus juga semua menyampaikan bahwa keburukan seseorang bisa jadi disebabkan oleh karena perlakuan buruk yang diterimanya).
Monday, August 27, 2007
Rush Hour 3

Jenis Film ACTION/COMEDY
Pemain JACKIE CHAN, CHRIS TUCKER,
NOEMIE LENOIR, HIROYUKI SANADA, YVAN ATTEL
Sutradara BRETT RATNER
Penulis JEFF NATHANSON
Produser ARTHUR SARKISSIAN,
LEON DUDEVOIR, ROGER BIRNBAUM
Produksi NEW LINE CINEMA
Homepage http://www.rushhourmovie.com/ Trailer http://www.rushhourmovie.com/
Durasi 90 min
Barusan liat film ini. Bener2 menghibur. Fully entertain. Lucu. Buat yang pengen ketawa dijamin pasti ngga nyesel liat film ini. Hahaha. Minimal pasti senyum deh (itu kebangetan tapi kalo cuman senyum aja huehehehe).
Teladan yang bisa diambil dari film ini mengenai brotherhood. Gimana tokoh yang diperankan si Jackie bener2 setia dengan persaudaraan nya. Tapi tetep aja ada masa di mana dia tidak mau mengakui persaudaraannya dengan orang yang berada lebih dekat dengannya.
Seringkali terjadi di dunia nyata. Bagaimana kita tidak menyadari adanya seseorang yang berada dekat dengan kita yang sungguh2 setia seperti seorang saudara sementara kita terlalu sibuk dengan keinginan kita mempertahankan persaudaraan dengan orang lain lagi -yang tidak menghiraukan kita. Tragis yah.
Wednesday, August 01, 2007
Transformers
SCI-FI/ADVENTURE/DRAMA
Pemain:
SHIA LABEOUF, JOSH DUHAMEL, BERNIE MAC, JOHN TURTURRO, TYRESE GIBSON
Sutradara: MICHAEL BAY
Penulis: ROBERTO ORCI/ALEX KURTZMAN
Produser: STEVEN SPIELBERG, BRIAN GOLDNER, MICHAEL BAY
Produksi: PARAMOUNT PICTURES
Film ini lumayan asyik buat ditonton. Ada satu bagian yang menurut aku agak missing. Aku lumayan bingung n mikirinnya sampe pusing juga ngga nemu bagian yang hilang itu berada di mana. Hahaha.
Di awali dengan gambaran gelap dan dinginnya langit. Dengan narasi yang diceritakan oleh Optimus Prime (pemimpin Autobots) yang menceritakan asal muasal peperangan yang terjadi antara Autobots dan Decepticons. Dan akibatnya yang mengimbas ke sebuah planet yang bernama BUMI.
Cerita berlanjut dengan menampilkan beberapa kesibukan orang2 yang pada akhirnya saling terkait. Mereka akhirnya yang bersama2 Autobots memerangi Decepticons. Akhir cerita happy end. Dengan kemenangan Autobots. Happy end buat bumi. Sad ending buat Autobots. Karena dengan musnahnya KUBUS yang menjadi sengketa maka Autobots tidak dapat membenahi planet tempat asal mereka. Lahirnya pahlawan baru yang dulunya adalah sosok yang selalu menjadi pihak yang kalah kini menjadi penyelamat bumi.
Animasi dan efek visual yang ditampilkan film ini sangat memukau. Keren banget. Transformasi dari robot menjadi mobil atau benda2 elektronik lainnya dikerjakan dengan sangat teliti. Bagian cerita yang menurutku hilang itu adalah di saat Witwicky (junior) dan Mikaela ditangkap lantas mendadak terkesan 'putus' begitu saja alur cerita nya. Karena adegan berikutnya langsung menampilkan Witwicky dan Mikaela sudah berada di dalam pesawat tempur bersama dengan tim peneliti hacker dan pasukan survivors. Mungkin emang untuk mempersingkat durasi film, tapi kesan putus tadi tetep kerasa.
Durasi film ini kurang lebih 2 jam lebih 15 menit. Termasuk lama. Dan memang kerasa lama. Ada di beberapa bagian yang cukup membosankan dan 'memaksa' aku buat ngeliat jam. Yah, emang ngga terlalu sering, tapi untuk film2 action seperti ini seharusnya tidak membuat penonton melihat jam karena alasan bosan. Dibandingin Die Hard 4.0 menurutku lebih bagus Die Hard 4.0 ^^ cool abis. Ngga sempet berkedip rasanya. Hahahaha.
