Cerita berikut ini menggunakan identitas pelaku dan lokasi yang sengaja disamarkan karena secara etika demikian semestinya.
Bayangkanlah di sebuah ruangan yang cukup luas. Dengan beberapa meja dan kursi kosong. Di dalam ruangan ini ada dua orang perempuan yang sedang berbincang-bincang. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang usianya berada sekitar 7-10 tahun di bawah kedua perempuan tadi. Dan terjadilah percakapan seperti ini:
L: Selamat siang... apakah tempat duduk ini kosong?
sambil memandang ke meja dan kursi di sebelah kedua perempuan tadi duduk dan berbincang
P1: Iya...
dengan pandangan bertanya-tanya dan diikuti dengan pandangan bertanya yang sama dari temannya
L: Boleh saya duduk di sini?
P2: Iya... silahkan...
merasa tidak ada jawaban lain selain mengiyakan
L: Terima kasih.
meletakkan plastik bawaannya ke atas meja dan duduk di kursi
P1 dan P2 bertukar pandang dan walau merasa ada kejanggalan, mereka melanjutkan perbincangan dan tetap bertahan di sana...
Beberapa menit setelah sibuk menata bawang2 bawaannya, dia mengambil selembar kertas kosong dan sebatang pena, laki-laki itu mulai menggambar... sketsa wajah seorang laki-laki dengan menggunakan tinta warna hitam.
Setelah laki-laki itu diam beberapa saat, akhirnya dia memulai lagi percakapan dengan kedua perempuan itu.
L: Maaf mengganggu... kalau boleh tanya... apakah Anda berdua *****?
P1 berhasil memberikan jawaban tanpa ada perubahan ekspresi yang berarti. P2 merasa P1 terlalu sabar dan memiliki pengendalian diri yang super baik. Sementara itu P2 merasa diri tak bisa menahan ledakan tawa yang sejak tadi terpendam sehingga P2 senyam-senyum tak menentu.
P1: Iya... ada apakah bertanya-tanya?
L: Ooohh... tidak mengapa-apa... Angkatan berapa?
P1: Tahun (sekian)
Lagi-lagi P1 masih sanggup menahan dirinya. P2 makin tak sanggup lagi menahan diri dari semburan tawa yang sudah di ujung tanduk.
L: Kalau boleh tahu... namanya siapa?
P1: (menyebutkan namanya)
L: Ooo.... kenal dengan Pak A (nama samaran)?
P1: Iya, tahu...
L: Kalau boleh tahu... namanya siapa?
P1: (kembali menyebutkan namanya)
P2 mulai tersenyum makin lebar.
L: Kalau Anda (sambil melihat ke P2), boleh kenalan? Siapa namanya?
P2: (menyebutkan namanya)
L: Terima kasih. Boleh kenalan ya?
P2 merasa ada yang janggal, karena bukankah kalau namanya kenalan semestinya menyebutkan namanya juga?
P2: Kalau Anda, siapa nama Anda?
L: (menyebutkan namanya beserta angkatannya)
P2 merasa semakin terjerumus ke dalam percakapan yang kian aneh.
Setelah itu percakapan terhenti.
Dan kedua perempuan itu melanjutkan bahasan yang masih belum tuntas tadi.
Beberapa saat kemudian, laki-laki itu terdengar seperti mengomel-ngomel sendiri. Beberapa kali mengibaskan tangan seolah-olah mengusir sesuatu. Beberapa penggal kata yang sempat tertangkap pendengaran kedua perempuan itu adalah, "Hussshhh... ibliss setann jahattt... pergi... syuhhh...!!"
Setelah beberapa kali laki-laki itu mengulang pengusiran itu... akhirnya dia bertanya-tanya tentang hal yang lain. P1 yang dengan tetap bersabar menanggapi, sementara P2 terselamatkan karena ada pengalih perhatian yang sangat manjur. P2 berhasil terhindar dari semburan tawa tak tertahankan.
Kemudian pengalih perhatian itu pun beranjak meninggalkan lokasi kejadian. P2 dengan berat hati kembali menghadapi kenyataan. Mendengarkan kembali percakapan yang masih berlangsung antara P1 dan laki-laki itu.
Setelah bersabar beberapa menit, akhirnya kedua perempuan itu sepakat untuk meninggalkan ruangan dan berpindah ke tempat lain.
L: Ada kegiatan lagi ya?
P1: Iya, masih ada...
Lagi-lagi P1 menanggapi dengan sabar.
L: Ooo... terima kasih kalau begitu... namanya siapa?
P2 mengangkat sebelah alisnya serta mengkertukan keningnya.
P2: Anda sudah bertanya untuk yang ketiga kalinya lho... Bila sampai lima kali Anda mengajukan pertanyaan yang sama Anda akan mendapatkan hadiah payung cantik...
P2 tak sanggup menahan diri lagi untuk berkomentar.
P1: (menyebutkan namanya LAGI) Iya... sudah bertanya kesekian kalinya.
L: Ohohohoho... begitu sampai lima kali saya bertanya, maka Anda akan langsung menjadi ***** saya...
P2 terperangah dan segera ngeloyor meninggalkan ruangan. P1 pun segera menyusul, tampak sedikit kuatir ramalan laki-laki itu menjadi kenyataan.
Setibanya di luar, P2 tak sanggup lagi menahan tawa. Hahahahahahahaha.
Bagi sebagian pembaca yang tidak memahami kelucuannya, diharap memaklumi diri sendiri; karena tulisan ini sekedar dibuat untuk merekam hal aneh yang penulis saksikan dan bagi penulis kejadian tersebut lucu.
Friday, March 13, 2009
Kejadian yang Aneh...
Thursday, March 12, 2009
Inikah Salah Satu Bentuk Krisis?
Beberapa hari yang lalu ditelpon calon klien. Diajak ketemuan di kantornya. Setelah selesai ngomongin masalah kerjaan, si klien lirik tanganku. Dan dia bertanya, "Sudah merid ya?" lantas aku pun otomatis ngelirik ke jari manisnya yang ternyata masih belum ada cincin melingkar di sana. Klien ini seorang perempuan yang dari kesan pertama aku bertemu dan berdiskusi dengan dia adalah seorang yang tegas, berani, smart, lumayan rewel dan keras kepala. Hahaha. Dan percakapan pun berlanjut dengan dia menyatakan opininya tentang kehidupan setelah menikah. Dia bilang kalau sudah menikah engga bisa pergi-pergi seenak hati ya... Pada dasarnya, dia mengajak aku buat hang-out bareng sometime. Hmm, ini perkenalan dalam beberapa menit, tapi udah ngajak hang-out bareng. Hahaha. Segitu cocoknya kah personalitasku dengannya? Jujur, aku agak ngerasa kurang nyaman dengan orang-orang yang setipe dengan dirinya. Kurang nyaman buat dijadiin temen hang-out gitu. Tapi ya entahlah... jauh di dalam hati ada rasa kasian juga... segitu engga ada temennya kah sampe2 para supplier dan klien diajak hang-out bareng.
Ketiadaan komunitas untuk bertukar pikiran, melakukan obrolan ringan, berdiskusi serta berargumentasi akan cukup mengganggu keseimbangan personalitas kita. Begitulah kesimpulanku saat itu. Maka bersykurlah aku yang masih memiliki komunitas untuk bertukar pikiran, mengungkapkan beban-beban yang ada, berbagi tekanan dan perasaan dengan teman-teman. Menikmati persekutuan dengan saudara-saudara seiman, nonton bareng dengan temen2, jalan2 ke pelosok yang engga jelas... (jadi keinget Cen2, hahaha)
Inikah salah satu bentuk krisis?
Pertanyaan ini mendadak muncul setelah pertemuan dengan klien ini. Sebuah kebutuhan yang tidak terpenuhi. Ya, inilah salah satu bentuk krisis. Dan sepertinya, krisis macam begini makin banyak menimpa. Lantas, apa yang bisa kita perbuat?
Monday, March 09, 2009
Pengaruh Perubahan atau Perubahan yang Mempengaruhi?
Perubahan pasti terjadi pada semua orang. Dalam hitungan tahun, bulan, minggu, hari, jam, bahkan menit serta detik! Yang mesti direnungkan di sini, sudahkah kita puas dengan perubahan yang terjadi dalam hidup kita?
Perubahan itu abadi. Maka, pikirkan baik-baik ke arah mana perubahan itu akan terjadi.
Seperti aliran air yang ke mana pun dia mengalir pasti bermuara ke laut; air yang tercurah dari langit, menimpa genting, meluncur ke talang, mengalir masuk ke dalam selokan, bercampur dengan berbagai macam sampah dan kotoran. Sebagian akan tersendat dan tersumbat karena kotoran2 tadi. Bahkan, bisa jadi aliran air tersebut menjadi terhenti. Selokan itu perlu dibersihkan dari kotoran-kotoran. Tempat sampah perlu dijadikan tempat pembuangan yang benar. Supaya air yang semestinya mengalir sampai ke tujuannya melintas dengan lancar, bukannya meluap dan menjadi musabab bencana.
Hidup ini seperti aliran air. Ada saatnya kita mengalami masa-masa kita dengan senang berbagi pengalaman dengan orang lain. Masa-masa suka maupun duka. Tawa atau pun tangis. Air yang tercurah sebagai hujan. Menyiram dan mendinginkan hati sesama yang kering serta membuatnya menjadi sejuk.
Namun ada juga saatnya kita mengalami masa-masa penuh kotoran dan sampah. Merasa hidup ini tidak beres. Segala sesuatu hal yang dilakukan seakan ter hambat, tersendat, bahkan macet -tidak bergerak ke mana-mana sama sekali. Di saat seperti inilah mungkin kita mesti mulai memungut dan membersihkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran buruk yang ada di dalam hati kita. Membuang semua hal yang menghambat aliran perjalanan kita pada tempatnya. Kembali memfokuskan diri kepada tujuan akhir kita.
Dan setibanya kita ke laut, yang tampaknya menjadi tujuan akhir kita, ternyata air laut pun menguap dan menjadi gumpalan awan yang siap untuk kembali tercurah membasahi bumi, membawa perubahan yang lain kepada setiap butir tanah yang dia lewati.
Perubahan akan terus terjadi. Berbagai masa kita lewati. Beraneka jalan kita lalui. Kerikil tajam, tanah yang gersang, gunung yang tinggi, hutan yang kelam. Bunga yang mekar, rumput yang hijau, biji yang berakar, ikan yang berenang, telur yang siap menetas. Setiap jengkal yang kita lewati akan berubah, demikian pula diri kita. Perubahan yang mengubahkan.
Perubahan itu seberapa pun kecilnya, tetaplah perubahan. Sekali pun tidak tampak dengan segera perubahan yang terjadi, tetaplah itu perubahan. Tetes air yang tak tampak oleh mata, tetaplah sebuah tetesan air. Di mana dia menetes bisa jadi merupakan penyegaran bagi sebuah kehidupan baru. Siapa yang pernah tahu?
Seperti apakah kita akan berubah?
Selamat berubah dan mengubahkan!
Friday, February 27, 2009
Akhirnya!
Setelah sekian lama engga menulis 'bebas' akhirnya inilah waktunya berbagi. Kejadian2 yang aku alami sejak awal bulan ini.
Sekian lama pengen dolan ke rumah cik di Tangerang engga kesampean, sampe cik udah pindahan rumah. Dan sebelum pindah rumah (lagi), aku berusaha mencari kesempatan buat bisa dolan ke sana. Akhirnya, setelah bosen nganggur beberapa bulan (karena sakit) dan karena libur panjang universitas, akhirnya disepakati (oleh hubby) tanggal 4 Februari aku berangkat ke Semarang, ketemuan cik dan 2 ponakan di sana, tanggal 6 Februari nya terbang ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Awal mula mau nginep di rumah cik, ada groginya juga. Gimana engga coba? Kan aku jarang2 ketemuan sama ponakan2. Gimana kalo ntar ternyata mereka ndak familiar sama aku? Hohoho, ternyata semuanya itu hanya ketakutanku yang mubazir. Hihihi. Belum nyampe rumah di Serpong, ponakan2 udah pada nempel. Apalagi yang kecil, Evan. Dia udah bertekad bakalan bobok bareng aku. Selama di Semarang pun dia benere udah memohon2 buat bobok bareng. Bobok rame2 sama kokoh, mama dan aku... gitu dia ber-ide. Hahaha.
Dan benarlah sampai di rumah cik, diatur Clay (si kokoh), Evan (si dedek) dan aku bobok satu kamar. Uhui! Hahaha. Sebelum bobok, aku ditodong buat cerita. O'ooo... ngga ada persiapan sama sekali. Mau cerita apa coba? Masa mau cerita tentang kerjaan? Mau cerita tentang polah tingkah para mahasiswa? Rasanya kok engga mungkin ya...
Akhirnya nginget2 jaman dulu pas kecil... pernah diceritain mama apa aja... omong2 mamaku jago banget cerita... huehehehehe. Semoga bakatnya nurun ke aku, demikian batinku pas sikat gigi untuk kemudian siap-siap menuju kamar. Setiba di dalem kamar pun, masih belum kepikiran mau cerita apa. "Ayoooooo!!! Ceritaaaaaaaaa...." seru mereka berdua kompak. Hahahaha. Akhirnya setelah memeras otak dan membongkar memori, mulailah aku cerita tentang Noddy di Negeri Mainan! Hahahahaha. Cerita yang cukup panjang dan bisa bersambung untuk beberapa malem. Variannya pun cukup banyak. Dan yang bisa membuat ceritanya tambah lama, ada jeda-jeda yang musti aku ambil buat nginget2... hahahahaha! (berharap mereka jadi ngantuk sementara aku nginget2)
Hari-hari di rumah bareng ponakan2 rasanya berlalu cepet. Mereka sekolah di rumah. Mamanya sendiri yang jadi tutornya. Buku-buku yang mereka pake bener2 mbuat iri. Berhubung aku juga suka science, mata jadi membelalak melihat buku bagus yang penuh warna punya mereka... hahahaha... buku2 pengetahuan dan cerita tokoh2 dunia yang mbuat ngiler... tapi since aku di rumah ngga banyak waktu luang, dan aku udah putusin selama di rumah bareng ponakan2, maka totalitas dan prioritas waktuku ya buat mereka :) ini keputusan dan komitemen yang udah aku ambil sejak masih di Surabaya. Menyadari sepenuhnya kalo ini kesempatan yang langka dan bener2 kudu aku manfaatin baek2.
Dan saat aku berada di ruang tunggu bandara menunggu panggilan untuk boarding, aku bener2 menyadari kalo waktu bersama ponakan2 ndak bakalan pernah aku sesali. Luar biasa! Banyak pengalaman dan pelajaran yang mereka bagikan. Banyak contoh sikap positif yang mereka tunjukkan ke aku tentang bagaimana bersikap dalam hidup.
Sewaktu masih ada di Semarang, kita berempat pergi mengunjungi rumah salah satu sepupu di perumahan (kok mendadak lupa namanya) di deket Pondok Daun. Nah, berhubung lalu lintas di sana sangat sangat lengang (alias sepi) maka dengan suksesnya aku (sebagai driver -istilah kerennya sopir) melanggar jalur yang semestinya bukan jalur yang diijinkan untuk aku lewati. Dan hampir pada saat itu juga, ponakanku berseru, "Iie... yaaa!! Nakallll!!! Minta dijewer telinganya....!!" Hahahahaha... ternyata pelanggaran yang kecil itu engga terlewatkan oleh ponakanku. Dan aku pun terheran-heran bagaimana cara cicikku mengajari mereka buat bener2 taat peraturan. Dan sepanjang aku berada di rumah mereka, tidak ada peraturan atau janji yang telah dibuat dilanggar. Luar biasa! :)
Relasi mereka berdua juga cukup membuat aku tercengang. Setelah seharian berebutan apapun yanh menarik mereka untuk diperebutkan, di salah satu malam, sebelum tidur dan lampu kamar sudah dipadamkan, Evan tampak terduduk menghadap tembok dan terdiam. Sebagai iie yang baek (hahahaha) bisa ngerasain suasana yang kurang bahagia, aku bertanya, "Evan kenapa kok sedih?" "Kokoh ndak mau bobok sama aku..." dan dia mengusapkan tangan kecilnya ke matanya. Hoooo... jadi terharu. Clay malem itu emang mau bobok bareng papanya. Dan Evan ngerasa kokonya engga mau barengi dia bobok. Menakjubkan tho?!!
Pujian yang mereka berikan juga tulus. Waktu itu kita bertiga mengecat dinosaurus. Setelah mereka belajar tentang dinosaurus hari sebelumnya. Dan setelah aku menyelesaikan dinosaurusku, mereka mengagumi karyaku dan bilang, "Punya iie paling keren deh..." Hahahaha. Syukurlah, aku masih bisa ngecet dengan bener... mengingat mata kuliah nirmana di semester 1 dan 2 yang dapet nilai pas-pas an :p
Karakter luar biasa yang mereka miliki tentunya engga terlepas dari ajaran dan teladan yang kedua orang tua mereka berikan. Sekalipun mereka homeschooling, keahlian bersosialisasi mereka sangat bagus! Buktinya? Mereka segera membuat aku merasa kerasan di dekat mereka, walaupun sudah sekian lama engga ketemu mereka. What great nephews I have! What a great family you have, Sist! Thanks for the all great quality moments we've shared!
Bener-bener pengalaman yang mengasyikkan!
Friday, February 20, 2009
Menghadapi Krisis dengan Tegar
Persekutuan Doa Sektor IV
GKI Kutisari Indah
Selasa, 17 Februari 2009
Dilayani oleh: Pdt. Samuel Tjahjadi, S.Th.
Bacaan: 1 Samuel 30:1-14
Krisis. Dalam hidup setiap manusia, pastilah ada sebuah masa yang disebut olehnya sebagai krisis. Entah itu krisis ekonomi (seperti yang sedang mengglobal saat ini), krisis karier, krisis cinta, krisis perhatian, krisis moral, dan lain-lain. Lain jenis, lain pula bentuknya. Beragam dan berbeda tiap pribadi yang mengalami.
Rasul Paulus, seorang rasul yang berani dan kuat pun pernah mengalami krisis dalam hidupnya.
"... Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami." (2 Korintus 1:8). Demikian Paulus menuliskan betapa berat beban yang dia tanggungkan, hingga dia telah putus asa juga akan hidup.
Ada kalanya dalam menghadapi krisis, kita merasakan hal yang sama dengan yang dialami Rasul Paulus. Kita mengeluh. Kita meratap. Kita menangis. Kita lelah. Kita putus asa. Semuanya itu adalah hal yang wajar dan sangat manusiawi.
Daud, seorang raja yang sangat berkenan di hati Allah, pernah juga mengalami krisis. Daud melarikan diri dari kejaran Saul. Daud mencari perlindungan ke negeri orang Filistin. Di sana, Daud menemui Akhis, raja kota Gat (baca juga 1 Samuel 27-29). Dari pertemuan itu, Akhis memberikan kota Ziklag kepada Daud untuk dijadikan tempat tinggal bagi Daud dan keluarganya serta keenam ratus orang yang bersama Daud.
Selang beberapa waktu, Daud tampaknya hidup dengan aman dan sejahtera. Tampaknya Tuhan memberkati 'pelarian' Daud. Kemudian datanglah krisis. Kota Ziklag diserang. Dikalahkan dan dibakar habis. Daud menyaksikan pemandangan kota yang terbakar habis, keluarga yang sudah ditawan. "Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis." (1 Samuel 30:4).
Dalam kondisi yang sesuai dengan harapan kita, kadang kita merasakan Tuhan memberkati kondisi kita itu. Padahal, belum tentu hal itu sesuai dengan perkenan Tuhan. Seringkali kita terjebak dengan persepsi seperti itu, baiklah kita lebih mawas diri, makin mendekatkan diri kepada Tuhan dan makin rindu hidup berkenan di hatiTuhan.
Daud bukan seorang manusia sempurna. Daud berulang kali melakukan kesalahan. Namun, Daud menjadi orang yang paling berkenan di hati Tuhan. "Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, Allahnya." (1 Samuel 30:6).
Orang-orang yang berjuang bersama Daud turut memusuhinya. Keluarga yang setia mendukungnya menjadi tawanan musuh. Daud sadar sepenuhnya, dia seorang diri. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, Allahnya. Daud kembali kepada Tuhannya. Daud sadar pertolongan yang sejati berasal dari Tuhan. Daud menyadari kesalahannya. Mencari pertolongan kepada kekuatan manusia adalah tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Daud kembali mencari kehendak Allah. "Kemudian bertanyalah Daud kepada Tuhan, katanya: "Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?" Dan Ia berfirman kepadanya: "Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan."" (1 Samuel 30:8). Inilah hal yang berkenan di hati Tuhan. Mencari kehendak Allah.
Tiang Awan Tiang Api
Ku tak perlu kuatir terhadap apapun
TanganMu yang penuh kasih
Menopangku tanpa henti
Ku tak perlu takut tuk melangkah maju
HadiratMu yang berkuasa
Menjagaku senantiasa
Seperti tiang awan yang meneduhkan dari terik siang
Hatiku slalu tenang di dalam tanganMu Tuhan
Seperti tiang api yang menerangi dari gelap malam
Kau menjagai hidupku dengan kebaikanMu
Saturday, February 14, 2009
Speaking of My Sister
A sister is a special gift
Given by God's grace
In a heart a sister owns
A very special place
A sister has a special way
That only she can care
She's the part of
All your memories
That only she can share
She will always be a part of you
A bond so sweet and strong
That through the years
And across the miles
It'll last your whole life long
She knows you like no other
On her love you can depend
When God gives you a sister
He has given you a friend
**a card presented by my elder sister on her wedding day: 25 April 1999**
Friday, January 23, 2009
Judge Bao
Tema Persekutuan Doa Pemuda Dewasa kali ini emang cukup 'ajaib' dan mbuat sebagian besar kening orang berkerut saat pertama kali mendengarnya. Sayang sekali publikasi untuk acara ini agak kurang, akibatnya kemaren yang hadir cuman 'kalangan sendiri' alias tim pengurusnya aja plus pelayan2 yang bertugas. Padahal yang dibahas sangat asyik, menegur dan membuat kita merenung sejenak untuk kembali bijak. Berikut ini ringkasannya:
Matius 7:1-5, 12-14
Fatsal 7 tulisan Matius ini masih merupakan bagian dari Kotbah di Bukit yang dibagi dalam beberapa perikop. Dilihat dari tema-tema nya, tiap perikop di fatsal ini saling berhubungan, bisa secara paralel atau saling melengkapi.
Bahasan kali ini lebih mengenai Hal Menghakimi.
Apa itu menghakimi?
Tindakan menilai dan memutuskan berdasarkan cara pandang diri sendiri, hal ini dilakukan secara relasional (sosial), dengan orang lain sebagai sasarannya.
Hal apa yang menjadi dasar suatu penghakiman?
Bahasa sederhananya: nilai apa yang mendasari seorang hakim dalam mengambil keputusan? Untuk apa mencari apa penghakiman dilaksanakan? Jawabnya: keadilan.
Nah, sanggupkah seorang manusia bertindak adil?
Sebelum menjawab pertanyaan ini coba kita lihat apa itu "adil".
Secara sosiologi, adil berarti memperlakukan orang lain sama seperti yang kita menginginkan orang lain perbuat kepada kita.
Agar kita dapat menghakimi dengan adil, maka kita harus menggunakan ukuran yang TEPAT. Artinya, kita harus mengetahui dengan persis apa yang sedang dialami orang yang akan kita hakimi itu, meminjam istilah dalam Bahasa Inggris wearing his/her shoes. Apabila ukuran yang kita gunakan untuk menghakimi tidak tepat, maka kita telah berlaku tidak adil! Dengan kata lain, kita harus mengenal secara utuh. Pertanyaannya, bisakah kita melakukan pengenalan secara utuh?
Alasan kita TIDAK BOLEH menghakimi:
1. Kita tidak akan pernah bisa mengenal seseorang secara utuh.
Selama kita hidup, kita pun belum mengenal diri kita sendiri secara utuh, bagaimana mungkin kita bisa mengenal diri orang lain secara utuh?
2. Penghakiman bersifat subjektif.
Sebelum kita menilai (menghakimi) seseorang apakah kita selalu melakukan penelitian (cek dan ricek) terlebih dahulu?
Kesubjektifan kita akan membuat kita melihat kesalahan orang lain LEBIH BESAR daripada kesalahan diri sendiri (dalam melakukan kesalahan yang sama). Misalnya: saat kita melihat orang lain datang terlambat, kita akan menghakimi, "Huh, tidak disiplin!" sementara bila kita datang terlambat, kita bisa membela diri, "Ahh... tadi kan jalanan macet... bla.. bla.. bla..." Intinya, kesalahan orang lain susah diampuni bila dibandingkan kesalahan kita. Toleransi untuk diri sendiri besar, sementara untuk orang lain sangat kecil -bahkan tidak ada.
Ada juga yang munafik. Menggunakan standard ganda. Maksudnya, memberikan beban dan tuntutan kepada orang lain, akan tetapi dirinya terlepas/terbebas dari beban dan tuntutan yang sama. Ini jelas tidak adil!
Jadi, sebelum kita mengambil sikap menghakimi orang lain, perlu kita periksa diri terlebih dahulu, sudahkah:
1. Kita adil?
menjadi pihak yang pertama dalam melakukan kehendak diri sendiri (memberi contoh dan berinisiatif) -Matius 7:12
2. Menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan sesuai dengan teladan Yesus Kristus?
kita dinilai berdasarkan tindakan kita, demikian juga saat kita menilai seseorang, hendaklah kita menilai berdasarkan tindakan yang langsung kita rasakan (bukan yang berdasarkan omongan pihak ketiga, keempat, dst.)
Satu hal lagi yang perlu diingat, pentingnya kita mengintrospeksi diri terlebih dulu sebelum menghakimi, "Apakah saya sudah lebih baik daripada dirinya? Jangan-jangan saya lebih buruk dari dirinya??!!" Demikian pula bila kita dihakimi orang lain. Introspeksi diri. Berdiam diri dulu sebelum memberikan feedback dan merenungkan, "Apakah saya memang seperti itu? Adakah hal yang bisa saya perbaiki?" Bila ditemukan ada hal yang salah, maka lakukanlah klarifikasi. Ajak bicara secara empat mata dengan santai aja...
Sekian dulu posting seputar hal menghakimi.
Selamat berintrospeksi!
Friday, January 16, 2009
Yang Terbengkalai...
Disadari atau engga, ada satu blog yang mustinya aku "maintain", ternyata aku "biarkan" terbengkalai. Buat yang rajin ngintip di www.gkikutisari.com bakalan bisa 'ngeliat' engga ada perubahan yang berarti sejak bulan nopember tahun lalu.
Yang lebih menegur lagi: pas PD Pemuda Dewasa, pelayan firmannya tersentuh untuk menyumbang tulisan di sana... hahaha... bener2 diriku yang pemalas...
Thursday, January 15, 2009
Pilek!
Beberapa hari terakhir di Surabaya -sejauh yang aku tau- cuaca sering hujan disertai angin keras. Genteng di atas berderak-derik (walau awalanya aku kira suara burung gereja yang berceracap) setiap kali angin bertiup kencang. Tadi pagi juga terbangun karena terkaget-kaget mendengar suara pintu partisi plastik yang terhembus angin. BRAK!!
Di Jakarta juga berulang kali diterpa hujan. Berita hari ini juga menyatakan kalau ancaman banjir masih belum berlalu. Cuaca yang buruk. Angin yang kencang. Ditambah stamina tubuh yang kurang bagus, akhirnya jadi gampang tertular penyakit. Berbagai macam penyakit muncul. Guntur pilek. Dita pilek. Ella (anak Joni & Filia) diare. Regi (anak Pran & Kak Herma) radang tenggorokan. Aku? Nggak terluput pula dari sakit. Sakit tenggorokan yang akhirnya dilengkapi dengan bersin-bersin, hidung tersumbat, badan agak meriang. Sekarang yang tersisa batuk dan pilek.
Sehubungan dengan sakit tenggorokan yang diikuti dengan batuk, maka mulailah pencarian obat yang tepat untuk mengobatinya. Setelah diperhatiin, berbagai macam obat beredar di sekitar kita! Berbagai macam gejala yang bisa diobatinya. Ada yang menulis, "Mengobati batuk yang disertai bersin-bersin, hidung tersumbat dan demam." Ada yang mencantumkan, "Flu yang disertai batuk." Nah, kalau sedang menderita batuk dan pilek, yang mana yang dipilih?
Berhubung awalnya tenggorokan yang sakit, jadi aku memutuskan kalau sakit batuklah yang menjadi yang utama -yang utama harus diobati dan disembuhkan. Jadi, aku memilih obat batuk. Sirup obat batuk yang mengandung rasa semriwing itu. Paling engga, tiap kali setelah menelan sirup obat batuk, tenggorokan terasa lebih lega dan nyaman.
Setelah dipikir-pikir dan direnung-renungkan, kata "disertai" yang banyak tertulis di label2 kemasan obat itu, mengingatkanku pada janji Tuhan Yesus pada saat Dia menyampaikan Amanat Agung, "... Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b).
Tuhan yang menyertai. Tuhan mengutamakan kita lebih daripada DiriNya. Mengagetkan ya? Bukannya Tuhan menyertai kita -dengan setia- sampai kepada akhir zaman. Seolah Tuhan engga ada kerjaan lain, selain menyertai kita.
Saat kita diutamakan Tuhan, bukan berarti kita bisa sesuka hati kita. Sudah selayaknya kalau kita makin kagum dan hormat kepada Tuhan. Bukan pula berarti semua hal yang kita inginkan harus terpenuhi. Ingatlah terus, bagaimana Tuhan sudah dengan rendah hati mengutamakan kita. Menempatkan kita sebagai biji mataNya.
Saat aku sakit batuk dan pilek ini di awal tahun, yang aku pikirkan adalah: kok nggak asyik banget ya, tahun baru, belum juga bulan Januari berakhir kok sudah sakit. Namun ternyata, dari sakit ini aku diajak untuk merenungkan arti penyertaan Tuhan.
Di tahun 2008, kondisi dunia mulai terpuruk, keadaan memburuk. Elpiji langka. Bahan-bahan makan mengalami kenaikan harga. Walaupun penurunan harga BBM terjadi, kondisi ekonomi bangsa ini masih belum juga pulih. Dengan kondisi seperti itulah, tahun 2008 ditinggalkan dan mulai menapak tahun 2009. Di awal tahun ini, perang yang makin menjadi terus berkecamuk di Gaza, hujan angin yang terus menerus menyebabkan beberapa daerah banjir, kesehatan terganggu, kekhawatiran melangkah di tahun 2009 terasa. 9 April yang akan datang, Pemilihan Umum anggota legislatif akan diadakan. Entah kondisi seperti apa yang akan terjadi.
Tahun 2009, segalanya serba tidak pasti -seperti awal tahun pada umumnya- akan tetapi segala macam ramalan dan telaah para ahli -yang serba kelabu- makin memberatkan kaki untuk melangkah di tahun ini. Serba ketidakjelasan. Keraguan. Kekhawatiran.
Batuk yang menyertai flu. Batuk yang disertai bersin-bersin dan hidung tersumbat. Saat bersin itu masih ada, maka bersin itu senantiasa melekat pada batuk. Ingus itu masih memampetkan saluran pernafasan. Mungkin saat kita terbatuk-batuk, susah menelan (hal-hal yang menyedihkan), berulangkali bersin (merasakan pedihnya air mata yang keluar), susah menghirup udara untuk bernafas, semuanya adalah kondisi yang sangat tidak nyaman. Namun, ingatlah: "Tuhan menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Saat kekuatan terbesar di alam semesta menyertai kita,
apakah yang perlu kita khawatirkan?
Saat Sang Pencipta mendampingi ciptaanNya,
apa yang perlu kita takutkan?
Seorang pencipta tentunya adalah
sosok yang paling mengerti segala kebutuhan ciptaannya.
Selamat disertai Tuhan!
