Berita yang dibawanya kerap mengejutkan
Sekalipun yang dijemput sudah sakit berkepanjangan
Tetap saja saat berita itu
Membuat terkesiap dan merenung
Jam kehidupan yang berhenti berdetak
Seiring hilangnya denyut nadi sang manusia
Tak pandang siapa dia
Tak peduli pagi atau petang
Sosok yang tak ada lagi
Rindu yang tak akan terobati
Menghapus air mata
Menghela nafas panjang
Berdoa memohon kekuatan dari Sang Empunya Waktu
Meminta hikmat dan sukacita serta pemulihan
Kematian menghampiri
Perpisahan terjadi
Haru dan bangga menyatu
Duka dan suka berpadu
Yang terkasih tak lagi di sisi
Tempat biasa berbagi
Diri yang tak lagi nyata
Namun akan selalu ada di hati
---
Sewaktu di Semarang, menerima kabar adik Emak Bien (Kukong Guan) meninggal pada hari Sabtu, 27 Desember 2008. Kemudian Kamis, 1 Januari 2009 Mama dari Papa (Effie, Sofia, Edward, Edwin) sepupu di Magelang meninggal.
Menjelang satu tahun Emak Bien meninggal, segala kebaikan dan kenangan Emak masih melekat. Saat Emak hadir di acara perjamuan makan keluarga 30 Desember tahun 2007 yang lalu. Terasa sebentar saja baru berlalu. Dan 21 hari setelahnya, sms dari Mama terbaca setelah aku pulang dari kebaktian Minggu. Detail masing2 kejadian masih teringat jelas dan hati ini masih merasakan kehilangan.
Wednesday, January 07, 2009
Akhir dari Hidup di Dunia
The Anniversary & New Year Gift
Tulisan ini adalah detail kejadian yang aku alami sejak bulan Oktober 2008. Kalau banyak yang bertanya-tanya kenapa blog ini sempat non-aktif sekian lama, inilah sebabnya.
Selamat membaca, siapkan waktu yang cukup panjang dan kesabaran untuk menuntaskannya.
Rabu, 22 Oktober 2008.
Engga ada yang terlalu spesial dengan hari itu. Awalnya saja.
Kegiatan rutin hari Rabu berlangsung. Selesai jam studio dekave tiga, pulang ke rumah dengan badan yang mulai kerasa engga enak. Meriang dan sedikit demam. Ternyata, menstruasi hari pertama. Awalnya engga ada rasa curiga sama sekali. Tapi kok sepanjang hari sampe malem lama2 keadaan tambah parah. Badan tambah lemes. Akhirnya ijin ke ketua KPR engga bisa dateng rapat rutin KPR hari Rabu. Bobok pun dilanjutkan. Besoknya keadaan sudah membaik. Kembali beraktivitas seperti biasa. Studio dekave lima dan tiga selesai dengan baik. Terus berlanjut sampe seminggu. Pendarahan belum berhenti. Mengingat banyaknya kegiatan ditambah peningkatan tekanan yang makin besar (sehubungan dengan kegiatan yang sedang aku koordinir) -buat yang teliti membaca posting2 sebelum ini mungkin bisa mengkaitkan kejadian-kejadiannya- aku ngira ini cuman karena kecapean. Maka engga berasa curiga, ternyata pendarahan terus berlanjut sampe dengan dua minggu! Akhirnya Meikel & aku mutusin buat ke dokter. Keluarga-keluarga dekat dihubungi dan merek juga menganjurkan untuk segera ke dokter kandungan.
Senin, 10 Nopember 2008.
Malamnya kita ke dokter kandungan. Lumayan was-was karena engga tau apa aja yang musti ditanyain. Setelah nunggu sekian lama, akhirnya dipanggil juga. Setelah kita cerita apa yang sudah aku alamin, dokter bilang mau diUSG. Maka diUSG lah aku. Dari hasil USG diketahui ada sebuah kista dengan ukuran 2.93 cm di ovarium kanan. Diagnosa dokter, aku dibilang mengalami gangguan hormonal. Dikasi obat dan mulailah kegiatan dibatasi (sayangnya karena tuntutan kegiatan yang numpuk, aku agak kesulitan buat ngebatasinya -udah telanjur janji). Satu minggu berlalu dan kondisiku belum ada tanda-tanda sembuh atau membaik.
Senin, 17 Nopember 2008.
Balek ke dokter karena kondisiku belum juga normal. Masih pendarahan, apalagi kalau kecapean, kondisiku jadi agak parah. Tapi engga sampe pingsan. Syukurlah! Kegiatan yang menuntut banyak konsentrasi sudah selesai, jadi beban pikiran itu sedikit terkurangi. Secara garis besar, acara yang aku koordinir berjalan -seturut dengan pertolongan dan perijinan Tuhan- dengan baik. Thank God! Dan aku bisa bertahan juga hingga akhir acara -mengingat sepanjang acara butuh konsentrasi dan riwa-riwi sana-sini (sementara pendarahan mulai mempengaruhi daya konsentrasi dan kekuatan fisik)- dan thanks a lot buat seluruh temen2 yang sudah berinisiatif membantu dan melakukan perannya dengan sangat baik.
Di tempat dokter dites kehamilan. Hasilnya positif. Tapi hasil USG menyatakan tidak ada janin di dalam kandungan. Dikhawatirkan hamil di luar kandungan. Bila benar demikian yang terjadi, dan bila dibiarkan janin itu tumbuh, bisa berakibat fatal. Shock dan pendarahan hebat bakal dialami si ibu. Berhubung dokter masih belum yakin seratus persen, setelah mengalami keadaanku yang masih cukup segar bugar (engga pucat pasi dan lemes) maka timbul ada sedikit keraguan. Dokter menganjurkan untuk memastikan hasil tes nya dengan tes darah. Dari tes darah bisa dilihat kadar kehamilannya sampai dengan usia berapa. Dokter mendesak untuk tes darah itu segera dilakukan dan besok malam sudah kembali menemui beliau dengan hasil tes nya. Selama menunggu, dokter mewanti-wanti untuk siaga. Nomer hape dokter diberikan. Apabila terjadi suatu hal, aku mengalami pendarahan HARUS SEGERA masuk ke UGD dan beliau dihubungi, beliau janji untuk segera datang begitu dihubungi.
Selasa, 18 Nopember 2008.
Paginya ke laboratorium, ambil nomor antrian, ke teller (kayak di bank wae), kasi surat rujukan dari dokter, dicatet ordernya, antri, lengan kanan dicoblos jarum, melihat darahku mengalir berpindah dari lengan menuju ke tabung laborat. Pulang ke rumah, disuruh Meikel bobok aja terusss. Hahaha. Akhirnya emang sehari itu bobokan terus, disambi nonton dvd, thanks to Triton yang udah kasi banyak filem2 baru.
Malemnya kunjungan ke dokter. Hasil tes darah menyatakan (memang) hamil. Namun kadarnya masih sangat kecil. Bila usia kandungan 4-5 minggu kadar per ml nya adalah 7.400, hasil test darahku cuman 186.5 Dokter menganjurkan untuk test darah tiga hari kemudian. Untuk mengecek adakah pertumbuhan. Saat USG (lagi) ditemukan satu lagi kista yang ukurannya 3.67cm dan (yang pertama) 4.53cm. Keduanya di ovarium kanan. Dinding rahim juga mengalami penebalan.
Jumat, 21 Nopember 2008.
Test darah lagi. Ganti lengan kiri yang ditusuk berhubung lengan kanan masih biru kehijauan karena lebam ditusuk hari Selasa kemarinnya. Malemnya ke dokter lagi, dengan hasil test darah. Dokter bilang kadarnya menurun (159.4). Jadi, tidak ada pertumbuhan dan yang pastinya tidak ada kehidupan. Saat menyatakan itu, dokter tampak lega (entah ini karena perasaanku atau emang bener gitu) jadi aku tidak mengalami hamil di luar kandungan. Karena bila hamil di luar kandungan, maka operasi tidak menjadi pilihan tetapi keharusan. Dokter bilang, tidak perlu dilakukan tindakan apapun, ditunggu saja, nanti semuanya akan luruh bersama dengan darah menstruasi. Ditunggu saja, daripada dilakukan operasi, padahal sebenarnya tidak perlu. Untuk memastikan lagi, minggu depannya aku disuruh test darah lagi.
Jumat, 28 Nopember 2008.
Test darah yang ketiga. Kali ini dianter koko. Meikel Kamis, 27 Nopember 2008 nya pulang malem dari Sampang-Madura. Hasilnya tetep Meikel yang ambil (seperti yang sebelum-sebelumnya). Malemnya kunjungan ke dokter. Dari hasil tes darah kadarnya memang semakin menurun dan dokter menyatakan kalau itu nantinya akan terus turun dan hilang dengan sendirinya. Bisa diserap tubuh, bisa keluar bersamaan dengan darah menstruasi. Jadi tidak perlu test darah lagi, daripada buang-buang uang. Dokter sudah bisa memastikan. Hasil tes darahnya 71.9
Selasa, 9 Desember 2008.
Masih ada pendarahan sedikit. Kunjungan ke dokter lagi. Di USG lagi. Kista masih ada dua. Dinding rahim masih agak tebal, namun tidak sampai 7mm. Pendarahan yang terjadi masih normal dan tidak mengganggu. Dokter menyatakan untuk menunggu (lagi) -buat pihak keluarga yang menunggu dan menunggu terus akhirnya merasakan ketidakbetahan- Dokter bilang kalau memang sudah engga betah nunggu bisa dikuret, supaya bersih langsung, tapi berhubung Meikel & aku belum pernah punya keturunan, dokter agak ragu untuk melakukan kuret, karena kuret bisa menyebabkan luka pada dinding rahim (yang tidak tersembuhkan) dan mengakibatkan susah punya keturunan. -buat Meikel dan aku, kami sepakat untuk menunggu lagi (dan keluarga emang masrahin keputusan untuk kami berdua yang ambil)- Dikasi obat pengendali hormon (sing regone larang) bila obat ini habis maka akan terjadi menstruasi. Jika menstruasi berlangsung dalam jangka waktu normal (tidak lebih dari 7 hari sudah bersih) maka kondisiku sudah bisa dipastikan kembali ke normal.
Akhirnya masa penantian kujalani lagi. Sepanjang masa menunggu itu, minum obat tiap hari, ditambah vitamin penambah darah, makan, tidur, istirahat, maen game, nonton dvd, baca buku, sangat membatasi kegiatan (rapat yang bisa tidak kuhadiri semuanya aku tinggal -lumayan kangen juga sama temen2). Akibat dari kegiatan yang 'mbabi' itu berat badan naek jadi 60 kg! Hahahaha. Saat penantian itu pendarahan sudah berhenti.
Perencanaan mau pulang ke Semarang jadi agak ngambang. Rencana tanggal 24 ke Batu, tanggal 26 balek Surabaya, tanggal 28 berangkat ke Semarang. Mau beli tiket kok masih ragu2 dengan kondisi kesehatan. Ya kalau baek2 aja. Ya kalau semuanya berjalan sesuai dengan prediksi dokter. Gimana kalau engga? Keraguan itu menggantung terus hingga tanggal 23 malem. Setelah telepon Cik Ing-Ing (yang subuh 24nya bakal berangkat dari Jakarta ke Semarang) akhirnya aku cek jadwal kereta api Surabaya-Semarang. Telepon stasiun menanyakan apakah masih ada tiket untuk tangal 28 nya. Syukurlah masih ada! Akhirnya tanggal 24 nya sebelum berangkat ke Batu, kita beli tiket dulu (masih inget posting Jempol ya?).
Dalam perjalanan ke Batu, ternyata sore itu menjadi sore menstruasi pertama. Setibanya di Batu, badan jadi tambah lemes. Perut kian mencengkeram. Sakit kepala makin menjadi. Akhirnya ijin untuk engga ikut ke perayaan Natal di GKI Batu ke suami. Pengen bobok aja di rumah. Setelah mandi dan dimanjain suami: disiapin air anget buat mandi, diambilin sandal jepit supaya kaki engga kedinginan, diambilin kompres aer anget buat perut, disiapin makan malem, diambilin air minum, diambilin minyak kayu putih, apapun yang biasa aku butuhin kalo lagi sakit n kademen. Huehehehe. Enaknya dimanja.
Singkat cerita, sebelum berangkat ke Semarang, pendarahan sudah berhenti. Puji Tuhan! Minggu pagi kebagian tugas jadi konsistori plus plus. Karena para petugas sangat minim, banyak yang engga dateng (entah itu sudah dihubungi atau belum, entah itu dateng telat ato gimana). Akhirnya ndobel jadi ikutan baca firman. Kebagian Bacaan Pertama. Dah gitu masih terancam bakal ndobel lagi jadi operator LCD. Meikel tugas jadi konsistori kedua (waktu persembahan). Jadi, kalau di awal Meikel bisa jaga LCD, trus ntar waktu persembahan aku yang gantiin Meikel (mbulet wae). Tapi syukurlah Rendy dateng n bersedia jadi operator LCD. Kejutan masih ada lagi! Warta Lisan nya engga ada. Yang ada cuman secarik kertas dengan tulisan tangan berwarna oranye! Aku segera mengenali itu tulisan Cimot dengan hi-tech oranye nya! Lumayan pusing juga mbacanya. Ditambah lagi masih ada satu warta yang musti aku adaptasi sendiri dari Warta Jemaat. Haiyah! Jantung berdebar. Tugas konsistori yang ngerasa terkaget-kaget. Syukurlah kebaktian berjalan dengan mulus. Puji Tuhan!
Selesai kebaktian, pulang ke rumah, final packing n tunggu jemputan (Ko Thomas, sepupu Meikel menawarkan diri untuk mengantar ke stasiun). Dan akhirnya Stasiun Pasar Turi! Kemudian Stasiun Tawang Semarang! Pemberhentian selanjutnya: home sweet home! Mandi, makan, bobok!
Cerita tentang Semarang kayaknya di tempat laen aja ya... ndak selesai-selesai nanti ceritaku yang ini.
Setelah balek ke Surabaya hari Minggu, 4 Januari 2009, Senin malam kita berencana untuk melakukan kunjungan ke dokter untuk final check up.
Senin, 5 Januari 2009.
Hujan deras. Berangkat ke dokter dan sebelumnya mampir dulu ke rumah temen, anter oleh-oleh. Air mulai menggenang. Kaca depan mobil agak kabur tertutup air hujan. Setibanya di tempat praktek dokter, pasien yang antri lebih banyak di luar biasanya. Setelah tanya ke penjaga antrian, ternyata dokter belum datang, padahal janjinya jam 7 malam mau datang. Saat itu jam menunjukkan pukul 19.33 sementara aku mendapat nomer antrian 15! Wuih! Mau pulang jam berapa?! Akhirnya Meikel dan aku memutuskan untuk pulang aja, balek besoknya.
Selasa, 6 Januari 2009.
Dari aku cerita kondisiku yang sudah tidak mengalami pendarahan, dokter langsung menyatakan semuanya sudah tidak apa-apa. Sudah kembali normal. Hasil dari pemeriksaan USG menyatakan: kista sudah tidak ada, kondisi rahim juga sudah kembali normal. Semuanya baik-baik saja. Puji Tuhan!
Sepulang dari dokter, segera kirim kabar ke keluarga-keluarga yang sudah menanti-nantikan kabar ini. Reaksi semuanya: lega dan bahagia. What a wonderful family I have!
Thanking God for all He has provided.
Thanking for all sisters and brothers who really care for me.
Thanking for all loves I've accepted.
Thanking for all kind of supports and prayers delivered.
Thank you for being there for me!
Especially for my lovely husband,
for all his patience and smiles around me during the aching moments and annoying times.
Melewati 1st Anniversary dan Tahun Baru dengan pengalaman yang serasa kayak di filem2 n sinetron2. Hahaha. Pernah ngerasa: bakal ngadepi pilihan hidup ato mati (pas dibilang ada kemungkinan hamil di luar kandungan -> mungkin bakal disuru milih bayinya yang idup tapi dengan kemungkinan ibunya mati "bener2 kayak di film tho?"; ngerasain pendarahan yang lama (bonus flu agak berat sampe demam 2 hari) -> jadi paling ndak ngerti lemesnya kayak apa perempuan yang sakit pendarahan 12 tahun (yang menjamah jubah Yesus dan menjadi sembuh). Bener2 gift yang berharga.
Sorry kalo aku baru cerita sekarang. Sebagian temen2 yang tanya kabarku biasanya aku jawab, "Panjang ceritanya, versi pendeknya: aku engga boleh kecapean n masih dalam kondisi pemulihan dan pemantauan." Kalau mereka ada waktu yang memang panjang dan 'maksa' diceritai aku pun cerita dengan panjang lebar. Dan ceritaku yang komplit barusan selesai aku ketik ini. Bener-bener panjang tho?
Semuanya sudah normal, sudah baik-baik saja. Sekali lagi terima kasih. Terutama buat yang sudah rela 'membuang' waktu cukup panjang untuk menyelesaikan bacaan ini. Hihihihihi.
Saturday, December 27, 2008
Jempol
Tulisan berikut ini special requested dari Meikel. Dia minta aku tulisin tentang perenungannya tentang JEMPOL (ibu jari). Hahahaha. Termasuk judul posting ini Meikel yang suru hihihi.
Hari itu hari Rabu, 24 Desember 2008. Sehari sebelum Hari Natal. Kita rencana berangkat ke Batu-Malang hari ini. Sebelumnya beli tiket Surabaya-Semarang pp di Stasiun Pasar Turi. Setelah semua urusan di rumah beres, semua saluran listrik yang bisa membahayakan rumah diamankan, kita berangkat. Juga engga lupa membereskan urusan hewan-hewan peliharaan yang dititipkan di rumah koko juga beres. Kesejahteraan mereka sudah terjamin, maka Meikel bisa mudik dengan hati tenang :)
Setelah selesai beli tiket, kita berangkat ke Batu. Sepanjang perjalanan, selalu ada aja hal-hal yang diomongin. Mulai dari ngomongin kegiatan sehari-hari, update kabar temen2, sodara2, cerita-cerita filem, nostalgia jaman dulu, ngerasani pengguna jalan yang ugal-ugalan... cuaca... kondisi pemerintahan... (lama-lama jadi kayak berita yaa... hihihi) Nah, kali ini salah satu topik yang dibicarakan tentang jempol Meikel. Dan berhubung Meikel barusan selesai baca Christmas Book yang dibagikan awal Desember di GKI Kutisari, Meikel jadi kepengen dibuatin tulisan tentang jempolnya.
Gini ceritanya, waktu itu Meikel dengan bersemangat ngebersihin kamar mandi (yang emang jadi bagian pekerjaan rumah tangganya). Semua dinding disikat. Buat temen2 yang udah pernah masuk ke kamar mandi di rumahku mesti masih inget: ada paku yang mencuat yang dijadikan cantolan (bahasa indonesianya apa ya?) shower kecil. Nah, saking semangatnya, jempol Meikel ketanggok (ini apa pula bahasa indonesianya?) -terbentur dengan keras- paku tadi. Enggak berdarah, tapi jadi senut2 n membiru. Yang jadi perenungan Meikel, jempol kanannya sekarang jadi kurang bisa berfungsi dengan maksimal. Akhirnya, serentetan kegiatan yang biasa bisa dilakukan dengan mudah, sekarang menjadi sulit dan butuh perjuangan ekstra.
Ngancingin baju, musti pake jempol kiri. Megang sendok jadi kurang mantep. Nulis, pegang alat tulis jadi gemeteran. Ternyata, sebuah jempol kalau tidak berfungsi dengan baek cukup membuat empunyanya kesulitan.
Sebuah hal kecil yang seringkali tidak dirasakan manfaatnya, namun bila tiba saatnya hal kecil itu rusak, cacat atau hilang maka kehadirannya sangatlah dinantikan. Jempol Meikel sekarang sudah tidak sakit lagi, tapi masih ada segumpal warna biru kehitaman di kukunya.
Ini tentang jempol yang bisa kembali. Ini tentang hal kecil yang sering tidak kita sadari kehadirannya. Bisa jadi kehadiran seseorang di dalam hidup kita terasa begitu 'kecil' dan sering kita lupakan. Namun bila seseorang itu tidak hadir, maka kita akan merasa kehilangan, merasa ada yang kurang, merasa tidak lengkap. Maka, sebelum seseorang itu 'pergi' marilah kita mensyukuri kehadirannya, kita menyampaikan hal-hal yang sudah semestinya kita sampaikan.
Senyumlah kepadanya. Teleponlah selagi pulsa mencukupi. Tertawalah bersamanya. Bacakanlah dia sebuah buku. Berbagilah waktu dengannya. Dengarkanlah keluh kesahnya. Dukunglah keputusan-keputusannya. Doronglah semangatnya.
Selamat memandangi jempol!
Selamat Natal dan Tahun Baru!
Tuesday, December 23, 2008
Natal 2008
Tahun ini Natal kedua yang kulalui bareng hubby. Tahun lalu 5 hari setelah merid, sekarang 1 tahun lebih 5 hari setelah merid. Hahaha.
Pesan Natal tahun ini, "Mengapa Yesus Turun dari Surga?" tema Persekutuan Doa Pemuda Dewasa yang engga aku hadiri :( karena hari itu badan masih belum seberapa sehat dari sakit flu. Benernya juga udah sejak bulan Oktober 2008 aku disuruh dokter buat engga terlalu banyak melakukan aktifitas fisik. Ndak boleh kecapean (harap jangan menyimpulkan apa-apa, para pembaca...). Maka sejak itu pula kegiatan2 -terutama rapat di gereja- dikurangi -bahkan ditinggalkan! Dikasi obat, bolak-balek ke dokter, dikasi macem2 masukan dari sana dan sini, disupport doa dari handai taulan (hihihih) dan ceritanya masih belum selesai. Kondisiku sekarang masih dalam pemantauan dan tetep engga boleh kecapean -ntar kalo udah ada kepastian, ntar aku cerita full versionnya. Dan sementara itu, TOLONG jangan menyimpulkan, berprasangka hal-hal yang engga aku sebutin di sini :p huehehe. Yang jelas, kondisiku sekarang ini sudah mengalami BANYAK kemajuan dari bulan Oktober yang lalu itu. Semoga saja semakin hari semakin baik. Puji Tuhan!
Kembali ke topik Natal tahun ini. "Mengapa Yesus Turun dari Surga?" Pertanyaan ini singkat tapi cukup mengajak kita untuk merenungkan jawabannya secara mendalam.
Meninggalkan 'kemewahan' dan 'kenyamanan' surga. Pencipta alam semesta berada dalam kandungan seorang perawan. Seorang gadis yang belum pernah memiliki anak. Seorang yang belum cukup pengalaman untuk mengandung. Resiko yang besar dihadapi. Dari sosok yang penuh kuasa, menjadi diri yang bergantung penuh kepada ibu yang mengandungNya. Kerendahan hati yang luar biasa. Sebelum lahir sudah ditolak sana sini. Tidak ada penginapan yang mau menerima Dia dan keluargaNya. Tampaknya keluargaNya bukan keluarga yang berpenampilan mewah dan kaya. Tidak diterima. Akhirnya mendapat tempat di sebuah kandang yang -tentunya tidak bersih. Dan aromanya tentu bercampur dengan bau yang melekat pada diri para penghuni kandang. Domba? Kambing? Sapi? Kuda? Tentunya penghuni kandang makan dan minum di situ. Demikian pula saat mereka selesai memetabolisme makanan dan minuman mereka. Mereka mengeluarkan sisa-sisanya di sana pula. Di kandang. Bayangkan betapa menyengatnya bau kandang itu!
Setelah lahir, menjadi bertumbuh dan menunaikan tugas yang Allah Bapa sudah persiapkan. Penyelesaian tugas yang engga gampang juga. Jalan salib musti ditempuh. Yang sampai sekarang masih jadi pertanyaan buatku, "Kenapa musti jalan sengsara itu yang Yesus tempuh? Tidak adakah jalan laen yang lebih 'mudah' untuk dilewati?"
Yesus sudah memberikan teladan untuk kita. Dia lebih dulu meninggalkan kemewahan Surga untuk memulai karya penyelamatan untuk kita -manusia berdosa. Dia dengan rendah hati menjadi manusia. Dia menggantikan menanggung dosa kita. Ada ketulusan di sana. Ada kesetiaan di sana. Ada ketaatan di sana.
"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:8)
Kalau menengok beberapa waktu terakhir ini, aku banyak mengalami kemunduran yang sangat signifikan dalam hal pertumbuhan rohani. Sudah ndak pernah penggalian alkitab, meninggalkan komitmen baca satu fatsal satu hari (tiap malem) -sorry, temen2 sie pemuda dewasa, pernah beberapa hari engga saat teduh pagi. Ooops! (ini pengakuan dosa, ceritane) Trus... (masih ada lagi) 2 hari Minggu engga kebaktian. Yah, heran juga kenapa kok sampe kayak gitu. Tapi jujur, perasaan jadi engga karuan. Jadi ngerasa ada sesuatu yang salah. Apa gara2 sakit ya? Jadi punya segudang alesan buat engga saat teduh... males baca (sakit kepala, badan sakit, perut senut2)... dan dasarnya emang lagi pengangguran (engga boleh cape2) jadi makin menjadilah... 'hawa' pemalas makin menggila tak terkendali. Weleh! Parah to?
Dan kondisi ini rasanya juga bisa 'terbaca' di blog ini. Posting nya udah sekian lama engga diupdate. Blog gkikutisari pun terbengkalai engga pernah aku sumbang ringkasan kotbahnya. Hahaha. Maap teman2.
Kesimpulan dari refleksi Natal tahun ini, ketaatan dan kesetiaan sampai mati yang Yesus tunjukin rasanya masih terlalu tinggi tingkatnya jika dibandingkan dengan keadaanku yang sekarang ini. Yah, memohon ampun dan meminta kekuatan dari Tuhan saja yang kurasa bisa memulihkan keadaanku ini.
Monday, December 22, 2008
Hari Ibu
"How much do you love your mom?"
Gara-gara sering liat tivi akhir2 ini (pengangguran berat: disuru banyak istirahat), maka nuansa Hari Ibu kerasa banget di acara-acara tivi. Bertebaran di berbagai program. Sampe Spongebob pun yang ditayangin episode yang berkaitan dengan Ibu. Hahaha.
Nginget-nginget jaman pas masih kecil dulu... jaman rumah masih berlantai kayu... bertangga batu... bertelepon puter (telepon jaman dulu itu lhooo... ada kabelnya mlungker-mlungker n kalo mau 'mencet' nomer telepon engga bisa, tapi musti diputer). Telepon di rumah warnanya kuning. Diletakkan di tempat yang agak tinggi, jadi buat anak umur 3-5 tahun (apalagi aku) yang belum cukup tinggi, engga bakalan nyampe kalo engga manjat kursi.
Nah, dulu aku yang kecil dan tukang ngadu, sering banget telepon Mama. Mama yang lagi sibuk jaga toko, ngadepin pelanggan, mbuat nota, ngecek barang, telepon gudang pesen barang, sering banget aku gangguin. Hahaha. Dikit-dikit aku telepon Mama. Kalo kucing di rumah ndak pulang-pulang, aku telepon Mama. Kalo aku dijailin sama Kokoku... aku telepon Mama. Kalo aku nyari mainan engga nemu, aku telepon Mama. Singkatnya, kadang untuk hal yang sepele banget aku telepon Mama. Dan sepanjang ingatanku, semua teleponku pasti diladeni Mama.
Tiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, Mama mbanguni aku... dah dibanguni, dipanggil2... tetep ngga bangun... sampe kudu diseret dari tempat tidur baru bangun... (padahal malemnya engga mau tidur-tidur, minta dibacain buku cerita -Mama paling jago disuru cerita/bacain buku cerita) Mama juga siapin susu coklat (kalo engga coklat, engga doyan), telur rebus setengah matang... bayangin ribetnya kayak apa. Belum ditambah lagi musti siapin bekal buat aku bawa n makan di sekolah. Setelah aku berangkat ke sekolah (dianter Papa), Mama siap-siap buat berangkat ke toko. Nah, kalo aku udah pulang sekolah, ketemu dengan koko, terjadi perkelahian, maka mulailah aku telepon Mama. Hahahaha.
Kalo diinget2 aku ini bener2 anak nakal ya. Pas sudah belajar nulis, Mama juga yang mulai ngajarin di rumah. Disuru nulis pelan-pelan supaya rapi. Tapi tetep aja engga rapi. Hahaha. Terus kalo belajar seringnya malah nanya macem2. Hal-hal yang ndak perlu ditanyain. Heran, Mama kok isa sabar ya...
Menjelang usia SD tingkat akhir, sementara temen2 semuanya mulai gemuk, aku sendiri yang tetep kerimping, Mama mulai bingung. Berusaha cari cara supaya aku gemuk -alias bertumbuh. Dikasi minyak ikan. Dikasi vitamin. Dikasi susu. Porsi telur rebus ditambah. Dan akhirnya bertumbuhlah aku. Hehehehe. Sehat dan besar. Thanks to Mama.
Jadi, wajar kalo aku jawab pertanyaan di atas, "I love my Mom soooooo muuuch!"
Tuesday, November 25, 2008
Teman Sebangku di Sekolah
Sebenernya istilah "sebangku" itu kan kurang pas ya? Masa satu bangku diduduki berdua? Mana muat? Hahaha. Ok, cukup ngomongin masalah bahasa!
Hari ini mendadak jadi inget sama temen SMA yang namanya Imelda. Tahun kedua dan terakhir di SMA duduk satu meja "sebangku" dengan temen yang namanya Imelda. Di tahun pertama duduk satu meja bertiga dengan Soer & Nana. Yang mau aku omongin di sini tentang Imelda di tahun terakhir. Imelda yang beda dengan Imelda di tahun kedua. Imelda di tahun kedua nama lengkapnya Imelda Kurniawati Herlambang. Imelda di tahun ketiga nama lengkapnya Imelda Purnamasari.
Seorang Imelda Purnamasari. Teman selama satu tahun duduk "sebangku" di deretan paling depan. Pernah absen beberapa hari gara2 kena cacar air (tapi engga nular ke aku pas SMA). Belum pernah ngeliat Imelda ngamuk. Ngeliat nangis pernah sih. Hihihi. Lemah lembut. Sabar.
Salah satu ajaran (dli luar mata pelajaran, ya) yang aku dapet dari Imelda ini: saat kau berbagi hal yang sama dengan temanmu (atau pasanganmu) berikanlah hal yang lebih baik dari yang ada padamu. Aku ngeliat hal ini pas Imelda kasi aku kembalian uang, dia pilih uang yang lebih baik dari sekumpulan uang 'gembel' yang dia punya. Sementara sebagian besar dari kita males buat nyimpen uang 'gembel' di dompet kita, Imelda memilih untuk tidak membiarkan uang 'gembel' memenuhi dompet orang lain selain dompetnya sebisa dia lakukan.
Luar biasa 'kan? Thanks to her :)
Tuesday, November 04, 2008
Adijasa
Bagi pembaca yang pernah berada di kota Surabaya selama beberapa waktu yang cukup panjang, pasti sudah cukup familiar dengan nama "Adijasa" yang lebih sering disebut dengan "adiyasa". Nama ini berkaitan erat dengan kedukaan. Yep, Adijasa adalah rumah duka yang berada di Surabaya, di dekat Tugu Pahlawan sana.
Hari Minggu kemaren, sewaktu mengikuti kebaktian di GKI Kutisari Indah, mendapat kabar bahwa ayah salah satu jemaat telah meninggal. Ayah dari Pak Karshana. Berhubung Meikel & aku kenal dengan Pak dan Bu Karshana, kami sepakat buat pergi melayat. Setelah mencari-cari informasi (yang datangnya ternyata mudah), akhirnya Minggu malam kami berangkat ke Adijasa. Bareng2 Irwan & Diana, plus Ko Yusak & keluarga.
Di Adijasa, ngobrol2 bareng Tante Ruth (mama e Filia). Tante Ruth bilang, "Dalam bulan Oktober-November ini, aku gantian menghadiri upacara pernikahan dan pemakaman! Setiap satu minggu sekali, gantian terus..."
Dan hari ini dapet kabar dari Cimot, adek perempuan Sophia Novita (DKV UKPetra 1999) meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Sebuah kabar yang mengejutkan. Sophie berusia nggak beda dengan aku. Bisa dikira-kira sendiri usia adeknya berapa.
Hidup ini penuh dengan kejutan. Perasaanku yang tadinya bangun dengan semangat karena akan nemeni Diana jalan-jalan berubah saat mendapatkan kabar ini. Entah dari mana asalnya rasa sedih ini muncul. Bahkan, perasaan kalut dan sedikit takut karena malam ini aku bakal membicarakan hal serius dan sensitif dengan seorang senior (baca: orang yang lebih sepuh), tak sanggup mengalihkan perhatianku dari hal ini.
Perubahan yang begitu mendadak. Sebuah kebetulan? Saat ini aku sedang membantu sebuah persiapan kebaktian peneguhan & pemberkatan nikah. Sebuah proses yang panjang dan sangat terencana. Diawali dari perkenalan kedua mempelai dan melewati proses pengenalan satu sama lain dan berlanjut ke pertunangan dan akhirnya mennyatakan komitmen seumur hidup. Pernikahan.
Kematian. Ada kalanya kematian menyongsong seolah direncanakan. Sakit yang lama. Kondisi yang makin lama makin parah. Namun ada pula kematian yang menjemput tiba-tiba. Kecelakaan. Sakit mendadak. Tidak ada yang pernah tahu.
Manusia dan kehidupannya, kapan dimulai dan kapan diakhiri, tidak ada seorang pun yang tahu. Dirinya direncanakan untuk lahir... dirinya diputuskan untuk meninggalkan dunia... tak ada yang tahu. Salah satu misteri ilahi. Hanya Sang Penciptalah yang berdaulat memutuskan. Sang Penciptalah yang paling mengerti kapan waktu yang tepat untuk menghadirkan atau memanggil seseorang.
Cobalah pikirkan, kematian... saat kita kembali menghadap kepada Pencipta kita. Sudahkah kita siap menghadapNya? Bukan menghadap kematian, namun menghadap Pencipta kita? Sudahkah kita melakukan dan menyelesaikan tugas yang sudah disediakan untuk kita? Sudahkah hidup ini berkenan di hadapanNya?
Mungkin sebagian besar pertanyaan di atas kita dijawab dengan, "Belum." Nah, yang menjadi masalah, kematian tidak tiba secara terencana. Kapankah jawaban "Belum." akan berubah menjadi "Sudah."? Tidakkah ada keinginan dalam diri kita untuk menyelesaikan tugas yang Tuhan sudah tetapkan untuk kita? Melakukan sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan kita. Bukankah itu yang Tuhan mau? Bukankah itu yang menjadi impian setiap pencipta? Melihat ciptaannya melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Sebagai seorang pencipta komputer, tentunya akan sangat bangga dan bahagia saat dia menyaksikan komputer ciptaannya bekerja sesuai dengan harapannya.
Apakah yang menjadi harapan Tuhan terhadap setiap kita? Secara umum, sebagai orang Kristen yang menjadi tugas kita adalah "...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." (Matius 28:19-20a)
Bagaimana cara kita melaksanakan amanat agung adalah yang perlu kita temukan. Setiap dari kita diberikan karunia berbeda-beda. Setiap dari kita mendapatkan kesempatan yang berbeda pula. Ada yang mendapat karunia untuk berdoa, menyanyi, menulis, mengajar, bercerita, menghibur, menasehati, dan lain-lain. Ada yang mendapat kesempatan untuk belajar lebih banyak sehingga pengetahuannya makin luas, ada yang mendapat kesempatan untuk mengakses internet dengan mudah, ada yang mendapat kesempatan untuk bercerita, kesempatan untuk mendengarkan, kesempatan untuk memberikan dorongan, kesempatan untuk mengajar, dan lain-lain.
Coba temukan karunia yang kita miliki, temukan pula kesempatan yang sudah tersedia untuk kita, dan ceritakanlah Kabar Baik (karya penebusan Tuhan untuk umat manusia); jalanilah hidup sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan kita. Buat Pencipta kita bangga dan bahagia melihat ciptaanNya melaksanakan tugas dengan baik sesuai dengan harapanNya.
Bagi para penulis di dunia maya, cobalah temukan 'cara' untuk dapat menyampaikan Kabar Baik melalui dunia ini. Dan jangan lupa untuk memohon hikmat kepada Tuhan.
Selamat mencari dan berbagi berkat!
Sunday, November 02, 2008
Minggu Padet!
Sejak Senin sampe hari ini (Minggu) rasanya adaaaa terus kegiatan. Hari Senin pagi ada studio DKV 5 terus siangnya studio DKV 3 sampe sore. Trus ada rapat persiapan pernikahan Eko & Rika. Capek banget. Mulai jam setengah 8 (Meikel & aku dateng telat). Aku baru pulang dari kampus jam lima lebih. Tunggu hubby pulang, nemeni ke dokter, sampe gereja udah hampir setengah 8. akhirnya rapat dimulai n makan malam bareng (yang disediaiin tuan rumah penyelenggara acara) n segera kita semua pindah ke gedung gereja tempat akan dilangsungkannya pernikahan.
Dimulai pengenalan 'medan' hahaha (koyok meh perang wae). Trus semi gladi kotor dilakukan. Semuanya selesai jam sembilan lebih. Trus lanjut rapat membahas persiapan2 selanjutnya n pencocokan (ulang) jadwal untuk gladi bersih. Weleh, jadwal yang dari dulu sudah dipastiin sekarang jadi bubrahhh. Wahahahahaha (semoga engga ngefek ke agenda kegiatan2 yang laen: boo-hoo). Pulang nyampe rumah jam sepuluh lebih.
Hari Selasa. Pagi setengah 10 berangkat ke rumah cimot. Jemput cimot n terus berdua beli kado buat anake Yohan & Cecilia (baru lahir tgl 21 Oktober 2008, cowok). Ke rumah Cecil, engga sempet ketemu her baby boy, lagi bobok. Huehehe. Jam setengah 1 pergi makan pecel di deket rumah Cecil. Berdua aja sama cimot. Trus setengah 2 berangkat ke ITC Metro (mengemban misi cari VCD pesenan papa). Nyampe ITC jam setengah 3 an... Ngantuk berat... sempet salah jalan juga hahahahaha... ternyata di ITC engga ada barangnya. Cuman dapet 1 keping aja. Trus 'nyebrang' ke Pasar Atum. Nyari lagi di sana. Eh... dah muter2... beli barang2 yang engga ada di dalem misi (aku beli tempat CD, cimot beli juga yang lebih apik n lebih larang)... beli makanan juga yang larange bejibulehhh hahaha. Cimot ngiri soale dee beli 11ribu dapet 2 cilik2. Aku beli 9ribu dapet lebih akeh. Hahahaha. Bayangpun mahale... abis makan pecel murah meriah 11ribu berdua dah termasuk minum, ini beli makanan kecil 20ribu berdua belum ada minum. Hahahahaha. Puter2 pasar atum sampe meh putus kaki ini, tetep engga nemu VCD nya. Trus jam 4 nyerah. Anter cimot ke surabaya plaza, les clay. Abis drop cimot, trus pulang. Huah. Ngantuk buangett. Jam 5 an nyampe rumah. Syukurlah engga ada acara malemnya.
Hari Rabu, studio DKV 3 aja. Ngeliat Nana sendirian di ruang dosen luar biasa (kurang tepat kalo disebut ruangan, soalnya 'terbuka' dan bisa diakses siapapun). Menyapa sesaat, terus kasi kunci loker. Lanjut ke ruang studio asistensi. Pulang, terus ketemu orang. Klien baru. Ngobrol2 n klien ini tampak puas dengan beberapa contoh karya yang aku buat n aku tunjukin ke dia. Trus pulang sampe rumah jam setengah 4. Buat penawaran, kirim email, kasi kabar ke klien kalo udah kirim penawaran. Approval harga, musti get ready buat memulai desain! Huahaha. Boboan bentar, jam setengah enam lebih bangun, beresin rumah, mandi, makan, jam 7 berangkat ke gereja, rapat pemuda bahas tentang leadership weekend. Pulang jam setengah 10 malem. Nyalain komputer, mulai ngelembur! Yeah! Mbuat desain banner pesenan sepupu. Buat 2 alternatif, print trus selesai! Selesai dikemas n siap dikirim, beres semua! Jam 3 lebih baru bobok.
Hari Kamis, studio DKV 5 jam setengah 10. Selesai studio ketemu Nana lagi dalam rupa sudah kena flu, "Aku flu berat..." gitu katanya. Waduh! Gawats! Ini semalem kurang bobok, paginya ketemu virus flu! Hahahaha. Ngerasa agak bahaya, makan siang minum jus jeruk (yang ternyata mengecewakan: nutrisari!!! yey! mau ne sehat, malah jadi ketambahan aspartam! weks!). Studio DKV 3 jam setengah 2, Nana teler berat akhire pulang jam setengah 3 setelah mahasiswanya engga ada yang muncul. Sisanya dititipin ke aku, titip pesen gitu... bukan nitip disuru aku yang ngasisteni... *tambah mumet lak an* pulang studio DKV 3 jam setengah 4. Anter desain ke rumah sepupu (Yaya). Pulang. Sempet bobok sebentar, trus berangkat lagi ke gereja, pimpin rapat sie pemuda dewasa bareng irwan. Wohohoho!! Pulang sampe rumah jam setengah 10 (lagi)! Lanjut lemburrr! Kali ini ada cimot. Bareng2 lembur tapi di rumah masing2 hahaha. Jam setengah 4 pagi kerjaan cimot udah kelar. Setelah saling bertukar info tentang hujan deras yang baru mengguyur surabaya, cimot sign out. Aku lanjut sampe jam setengah 5. Selesai semuanya: Desain buat publikasi PD Pemuda Dewasa (3 media: flyer B/W, undangan fullcolor, layar LCD), desain untuk klien baru. Yiiiha! Email sent. Lega. Masak nasi, siapin air buat mandi, trus ngangur2 tungguin catering dateng. Jam setengah 7 kirim sms ke klien, kasi kabar kalo uda kirim email.
Hari Jumat. Jam 7 siap-siap bobok. Jam 9 lebih bangun. Jam 10 kurang selesai mandi, dapet sms dari cimot, minta bareng ke kampus. Akhire nyampe kampus jam setengah 10 kurang. Rapat nilai tipo udah dimulai. Di kampus terus sampe jam 7 kurang. Studio tipografi1. Jam 7 ke rumah Yaya, kirim revisi desain, pulang rumah. Makan sambil siapin liturgi n run down acara buat Eko & Rika. Jam 8 (tanpa sempet mandi) ke gereja (lagiii) ketemu Bapak Pendeta, diskusi tentang liturgi dan penempatan Paduan Suara, Rika (bukan aku) dateng jam setengah 9 an. Lanjut ngobrol2 n diskusi bareng sampe jam setengah 10 kurang 10. Rika (bukan aku) pulang, terus lanjut asistensi sampul syukur dasawarsa ke Bapak Pendeta. Urusan beres, pulang ke rumah dengan hati agak lega. Sampul syukur beres. Liturgi udah matang, siap naik cetak. Tinggal konfirmasi aja. Desain banner beres. Jam 10 sampe rumah, masak air buat mandi. Maunya revisi desain tapi kok capeee... akhirnya selesai mandi bobok aja. Jam 12 lebih. Sambil nungguin ngantuk yang lebih lagi, disambi baca buku pinjeman dari Nana, The BFG. Huehehe. Buku anak-anak tapi asyik!
Sabtu bangun jam setengah 10. Udah banyak yang nyari! Astaga! Revisi desain setelah download email revisi dari klien. Engga seberapa banyak. Thank God! Ternyata kliennya engga rewel n langsung suka dengan desain yang aku buat. Puji Tuhan! Setelah itu kirim email, kirim kabar kalao email sent. Pas selesai kirim email, pas listrik padam! Hore! Indah pada waktunya!!! Huehehehehe. Ditinggal buat fotocopy flyer, ngeprint, trus balek, listrik udah nyala. Klien dah approve desainnya, minta dikirimi hasil print outnya. Setelah printing, berangkat ke kantor klien. Beres semua, kirim flyer n undangan ke gereja (setelah diitung2, seminggu ini ke gereja melulu kecuali hari selasa hahaha). Pulang ke rumah jam 5. Nonton Bee Movie (senin rapat mau didiskusikan: rapat ato movie review nih?? hahaha). Akhirnya istirahatt!!!!
Hari Minggu kebaktian jam 09.00, sepulang kebaktian disamperin Abed, ditanya tentang liturgi (hebatnya urut2an lagu masih kuinget dengan jelas! padahal engga bawa catetan hahahaha!!), tim singer (cantoria) mau latihan buat pernikahan Eko dan Rika (bukan aku). Dan akhirnya pulang ke rumah, trus nulis ini nihh.
Cape luar biasa. Yang mbuat amazing ada 2 hal:
1. Dalam seminggu dapet klien baru, dapet project, langsung approve dan segera produksi. Semoga aja semuanya beres dalam minggu ini. Wooow!
2. Capeknya kayak hari Kamis-Jumat (tidur 2.5 jam) dapet sumbangan virus flu, tetep sehat-sehat aja, malemnya juga masih bisa konsen ngebahas diskusi. Luar biasa!
Itu baru 2 hal yang keliatan n kepikir. Untuk saat ini cukup dulu mikirnya, mau mbuat resensi kotbah. Trus nyetrika. Hahaha.
Have a blessed Monday, everyone!
Monday, October 27, 2008
Reseted Phone Book
Beberapa waktu yang lalu handphone yang paling banyak 'isi' nya musti direset. Kenapa? Gara-gara kebanyakan aku isi ringtones, pics, games yang baru aku download. Hahaha. Setelah diisi dengan banyak files yang baru, rupanya dia jadi kepanasen n berkedip-kedip. Byar pet! Setelah usut punya usut, dibawa ke reparator, sang reparator bilang, "Ini hape abis masuk ke dalem aer ya?" dan setelah aku inget2 emang beberapa waktu yang lalu (tepatnya sekitar bulan mei-juni) hape tersebut masuk dalem aer. Hahaha. Maka dengan jujur aku mengaku, "Iya, tapi itu sudah lamaa... n setelah itu semuanya baik-baik saja."
Ternyata, hape yang sudah pernah kena aer seberapa parahnya, tetep musti dibongkar n dikeringkan dengan segera. Kalo engga jadinya ya kayak hape ku. Tiba-tiba mati tanpa ada tanda-tanda or gejala-gejala sebelumnya. Hahaha.
Nah, setelah dikembalikan, data yang ada di dalamnya hilang semua. Kecuali yang ada di dalam memory card. Dan data yang ada di dalam memory card tidak termasuk phone book. Semua phone book ada di dalam -seperti namanya- phone! Jadi, akibatnya bisa ditebak! Semua nama2 dan nomor telp berikut data yang ada... kayak alamat, e-mail, dll hilang lenyap tak berbekas! Wahahahaha.
Asyiknya nih... (data ilang kok asyik?!) hampir semua orang yang biasa (pernah & cukup sering) sms aku, bisa aku deteksi dengan segera pengirimnya, walau engga muncul namanya dan mereka pun tidak mencantumkan identitasnya. Ini bukan berarti aku hafal nomer2 mereka, tapi lebih ke mengenali gaya bahasa yang mereka pakai. Dan terutama lagi bagaimana mereka memanggilku.
Ada yang memanggilku, "Ki...", "Kik...", "Ci Rik...", "C Rik...", "Rik...", "Ka...", "Ce..." semuanya menggambarkan dengan jelas "suara" dari masing-masing mereka memanggilku. Dari sini aku nyadar kalo aku ini sangat menghargai karakter yang dipunyai dari setiap temen-temenku. Dari sini juga aku kembali diingatkan sampai sejauh mana aku mengenali teman-teman yang kontak aku. Semakin sering seorang teman melakukan kontak dengan aku, semakin kenal aku dengan 'bahasa' yang mereka gunakan. Hanya dengan membaca sekilas saja, aku sudah tahu siapa dirinya (walau nomer yang terpampang tidak teridentifikasi oleh handphoneku). Dan aku bersyukur buat setiap teman yang Tuhan sudah ijinkan berbagi hidupnya denganku. Hal-hal luar biasa Tuhan sudah ajarkan lewat mereka!
Terima kasih, teman.
