Tuesday, November 04, 2008

Adijasa

Bagi pembaca yang pernah berada di kota Surabaya selama beberapa waktu yang cukup panjang, pasti sudah cukup familiar dengan nama "Adijasa" yang lebih sering disebut dengan "adiyasa". Nama ini berkaitan erat dengan kedukaan. Yep, Adijasa adalah rumah duka yang berada di Surabaya, di dekat Tugu Pahlawan sana.

Hari Minggu kemaren, sewaktu mengikuti kebaktian di GKI Kutisari Indah, mendapat kabar bahwa ayah salah satu jemaat telah meninggal. Ayah dari Pak Karshana. Berhubung Meikel & aku kenal dengan Pak dan Bu Karshana, kami sepakat buat pergi melayat. Setelah mencari-cari informasi (yang datangnya ternyata mudah), akhirnya Minggu malam kami berangkat ke Adijasa. Bareng2 Irwan & Diana, plus Ko Yusak & keluarga.

Di Adijasa, ngobrol2 bareng Tante Ruth (mama e Filia). Tante Ruth bilang, "Dalam bulan Oktober-November ini, aku gantian menghadiri upacara pernikahan dan pemakaman! Setiap satu minggu sekali, gantian terus..."

Dan hari ini dapet kabar dari Cimot, adek perempuan Sophia Novita (DKV UKPetra 1999) meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Sebuah kabar yang mengejutkan. Sophie berusia nggak beda dengan aku. Bisa dikira-kira sendiri usia adeknya berapa.

Hidup ini penuh dengan kejutan. Perasaanku yang tadinya bangun dengan semangat karena akan nemeni Diana jalan-jalan berubah saat mendapatkan kabar ini. Entah dari mana asalnya rasa sedih ini muncul. Bahkan, perasaan kalut dan sedikit takut karena malam ini aku bakal membicarakan hal serius dan sensitif dengan seorang senior (baca: orang yang lebih sepuh), tak sanggup mengalihkan perhatianku dari hal ini.

Perubahan yang begitu mendadak. Sebuah kebetulan? Saat ini aku sedang membantu sebuah persiapan kebaktian peneguhan & pemberkatan nikah. Sebuah proses yang panjang dan sangat terencana. Diawali dari perkenalan kedua mempelai dan melewati proses pengenalan satu sama lain dan berlanjut ke pertunangan dan akhirnya mennyatakan komitmen seumur hidup. Pernikahan.

Kematian. Ada kalanya kematian menyongsong seolah direncanakan. Sakit yang lama. Kondisi yang makin lama makin parah. Namun ada pula kematian yang menjemput tiba-tiba. Kecelakaan. Sakit mendadak. Tidak ada yang pernah tahu.

Manusia dan kehidupannya, kapan dimulai dan kapan diakhiri, tidak ada seorang pun yang tahu. Dirinya direncanakan untuk lahir... dirinya diputuskan untuk meninggalkan dunia... tak ada yang tahu. Salah satu misteri ilahi. Hanya Sang Penciptalah yang berdaulat memutuskan. Sang Penciptalah yang paling mengerti kapan waktu yang tepat untuk menghadirkan atau memanggil seseorang.

Cobalah pikirkan, kematian... saat kita kembali menghadap kepada Pencipta kita. Sudahkah kita siap menghadapNya? Bukan menghadap kematian, namun menghadap Pencipta kita? Sudahkah kita melakukan dan menyelesaikan tugas yang sudah disediakan untuk kita? Sudahkah hidup ini berkenan di hadapanNya?

Mungkin sebagian besar pertanyaan di atas kita dijawab dengan, "Belum." Nah, yang menjadi masalah, kematian tidak tiba secara terencana. Kapankah jawaban "Belum." akan berubah menjadi "Sudah."? Tidakkah ada keinginan dalam diri kita untuk menyelesaikan tugas yang Tuhan sudah tetapkan untuk kita? Melakukan sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan kita. Bukankah itu yang Tuhan mau? Bukankah itu yang menjadi impian setiap pencipta? Melihat ciptaannya melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Sebagai seorang pencipta komputer, tentunya akan sangat bangga dan bahagia saat dia menyaksikan komputer ciptaannya bekerja sesuai dengan harapannya.

Apakah yang menjadi harapan Tuhan terhadap setiap kita? Secara umum, sebagai orang Kristen yang menjadi tugas kita adalah "...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." (Matius 28:19-20a)

Bagaimana cara kita melaksanakan amanat agung adalah yang perlu kita temukan. Setiap dari kita diberikan karunia berbeda-beda. Setiap dari kita mendapatkan kesempatan yang berbeda pula. Ada yang mendapat karunia untuk berdoa, menyanyi, menulis, mengajar, bercerita, menghibur, menasehati, dan lain-lain. Ada yang mendapat kesempatan untuk belajar lebih banyak sehingga pengetahuannya makin luas, ada yang mendapat kesempatan untuk mengakses internet dengan mudah, ada yang mendapat kesempatan untuk bercerita, kesempatan untuk mendengarkan, kesempatan untuk memberikan dorongan, kesempatan untuk mengajar, dan lain-lain.

Coba temukan karunia yang kita miliki, temukan pula kesempatan yang sudah tersedia untuk kita, dan ceritakanlah Kabar Baik (karya penebusan Tuhan untuk umat manusia); jalanilah hidup sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan kita. Buat Pencipta kita bangga dan bahagia melihat ciptaanNya melaksanakan tugas dengan baik sesuai dengan harapanNya.

Bagi para penulis di dunia maya, cobalah temukan 'cara' untuk dapat menyampaikan Kabar Baik melalui dunia ini. Dan jangan lupa untuk memohon hikmat kepada Tuhan.

Selamat mencari dan berbagi berkat!

1 comment:

Anonymous said...

tulisan ini sangat membangun dan menginspirasi..kiranya kita masih mengingat bahwa Tuhan masih mencari jiwa2x untuk diselamatkan oleh KasihNya sebelum kematian itu datang, karena itu beritakanlah InjilNya..Terima kasih, tulisan mbak Rika ibi telah mengingatkan kita..JBU.